Sering Gelisah, Bisa Jadi Bakteri di Perut Penyebabnya

Sering Gelisah, Bisa Jadi Bakteri di Perut Penyebabnya

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 31 Jul 2015 13:05 WIB
Sering Gelisah, Bisa Jadi Bakteri di Perut Penyebabnya
Foto: thinkstock
Jakarta - Selama ini rasa gelisah atau gangguan ansietas lebih sering dikaitkan dengan kesehatan mental dan jiwa seseorang. Biasanya, kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh rasa stres dan depresi.

Namun penelitian terbaru dari Kanada menemukan bahwa orang dewasa yang memiliki gangguan ansietas bisa jadi dipengaruhi oleh bakteri di perut. Penelitian ini mengungkap stres yang dirasakan saat anak-anak membuat bakteri perut berubah dan akhirnya memengaruhi otak ketika dewasa.

"Penelitian ini didasari oleh sebagian besar pasien saya. Mereka yang memiliki gangguan pencernaan, irritable bowel syndrome atau masalah di perut lainnya, sebagian besar memiliki juga masalah kejiwaan seperti depresi atau gangguan ansietas," tutur Dr Premysl Bercik dari McMaster University di Kanada, dikutip dari ABC Australia, Jumat (31/7/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Dokter Kebingungan, Pasien Jadi Kegemukan Selepas 'Cangkok' Tinja

Dalam penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Nature Communications ini, Dr Bercik dan rekan-rekannya meneliti bakteri perut yang ada pada tikus mencit. Bakteri dari perut mencit yang mengalami stres dipindahkan ke perut mencit normal. Lalu perilaku mencit tersebut dianalisis oleh Dr Bercik.

Hasilnya, diketahui bahwa bakteri perut ternyata mampu memproduksi molekul saraf aktif. Molekul ini diyakini peneliti dapat memengaruhi otak dan sangat bergantung pada keadaan mental. Jika sering mengalami stres, molekul ini akan membuat orang lebih mudah merasa gelisah.

Hasil lain dari penelitian ini juga menemukan bahwa tranplantasi bakteri juga memengaruhi sifat mencit. Mencit pemalu akan berubah menjadi lebih berani dan ingin tahu setelah mendapat transplantasi bakteri perut dari mencit lain yang lebih berani.

Dr Bercik mengatakan hasil penelitian ini bisa saja mengungkap makna lain dari transplantasi feses yang sedang populer saat ini. Transplantasi feses memang diketahui merupakan prosedur pengobatan bagi beberapa penyakit gangguan perut seperti irritable bowel syndrome dan functional dyspepsia.

"Selama ini transplantasi feses hanya memerhatikan riwayat kesehatan fisik donor, apakah ia pernah terserang infeksi atau mengalami penyakit lainnya. Padahal riwayat kesehatan jiwa juga penting. Jika donor ternyata pernah mengalami depresi, maka si penerima bisa saja memiliki risiko gangguan kejiwaan yang sama," pungkasnya.

Baca juga: Wah, Kandungan Probiotik Dalam Yoghurt Pengaruhi Mood dan Cegah Depresi

(mrs/up)

Berita Terkait