Jumat, 14 Agu 2015 19:05 WIB

Jangan Asal Minum, Begini Caranya Agar Temulawak Lebih Bermanfaat

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: M Reza Sulaiman Foto: M Reza Sulaiman
Sukabumi - Jamu temulawak memang populer sebagai jamu untuk menambah nafsu makan. Bahkan dari temulawak, sudah tercipta obat fitofarmaka yang berfungsi untuk menjaga fungsi liver.

Meski begitu, tak semua temulawak ternyata bisa digunakan sebagai obat herbal. Prof Yonny Koesmasryono, PhD, Profesor bidang Geofarmaka sekaligus Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor menyebut zat yang paling berpengaruh dalam fungsi pengobatan adalah curcumin. Nah, kandungan curcumin dalam satu buah temulawak ternyata bervariasi.

"Jadi bukan dari temulawaknya langsung. Karena dia tanaman umbi, maka 90 persen dari kandungan yang ada di umbinya itu air. Kan yang bermanfaat itu curcuminnya. Sementara kandungan curcuminnya mungkin hanya 2 persenan," tutur Prof Yonny kepada wartawan dan ditulis Jumat (14/8/2015).

Baca juga: Temulawak Jadi Ikon Jamu Nasional, Bisakah?

Indah Yuning Prapti, SKM, MKes, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu menyebut manfaat temulawak berasal dari dua zat utama yang dikandungnya.

Zat pertama merupakan curcumin. Zat inilah yang memiliki fungsi untuk menambah nafsu makan, menjaga fungsi hati hingga meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan saluran pencernaan.

Sementara zat kedua yang disebut sebagai Santorizol lebih bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit tubuh. Kedua zat ini baru bisa didapat dan digunakan setelah diekstrak dari umbi temulawak ketika panen.

"Jadi baru panen setiap 8 bulan. Hasilnya juga beragam tergantung varietas dan lokasi. Kalau kami di Tawangmangu kualitasnya bagus, bisa sampai 3 persenan. Tapi petani biasa kalau salah menanam mungkin hanya sedikit, 1 persenan. Dijual pun satu kilogram cuma Rp 1.000," tutur Indah di kesempatan yang sama.

Selain lokasi dan varietas, iklim dan majemen pengelolaan temulawak juga berpengaruh terhadap kualitas curcumin yang dihasilkan. Prof Yonny mengatakan bahwa temulawak akan memproduksi curcumin lebih banyak jika dibuat stres. Karena manajemen pengelolaannya pun tak bisa sembarangan.

"Riset kami membuktikan temulawak yang ditumbuhkan di laboratorium dan dibuat stres kandungan curcuminnya bisa sampai 4 persen. Ini sudah termasuk tinggi. Tinggal bagaimana apa yang dilakukan di lab bisa di aplikasikan di perkebunan," tuturnya lagi.

Kedepannya, Prof Yonny mengatakan harus ada cara agar kandungan curcumin yang sedikit ini bisa lebih bermanfaat. Salah satunya adalah dengan mengubah curcumin menjadi nano-curcumin sehingga ukurannya lebih kecil dan diserap lebih baik oleh tubuh.

"Sudah ada penelitiannya. Penelitian di lab sudah, sekarang tinggal penelitian di bidang manufacturer. Ya semoga akan bisa selesai dalam beberapa waktu ke depan," pungkasnya.

Baca juga: Tak Hanya Tambah Nafsu Makan, Temulawak Juga Bisa Obati Penyakit Liver

(mrs/vit)
News Feed