Ada Kota 'Vampir' di Brasil, Mayoritas Penduduknya Alergi Sinar Matahari

Ada Kota 'Vampir' di Brasil, Mayoritas Penduduknya Alergi Sinar Matahari

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 19 Agu 2015 16:30 WIB
Ada Kota Vampir di Brasil, Mayoritas Penduduknya Alergi Sinar Matahari
Foto: nn
Jakarta - Sebuah kota di Sao Paolo, Brasil selalu sepi di siang hari. Penduduknya lebih banyak beraktivitas malam hari karena mengidap kelainan langka sehingga tak tahan kena sinar matahari.

Kota kecil bernama Araras ini mirip kota hantu karena mayoritas penduduknya mengidap Xeroderma Pigmentosum (XP). Penyakit langka ini membuat kulit pengidapnya rusak saat terkena radiasi ultraviolet dari sinar matahari, dan kerusakannya tidak bisa diperbaiki.

Sekitar 600 dari 800 penduduk Araras mengidap XP, 20 di antaranya dalam bentuk yang parah dan dicurigai mengidap bentuk agresif dari kanker kulit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Djalma Jardin adalah salah sorang warga Araras yang mengidap XP. Akibat penyakit ini, Jardin kini hanya mempunyai satu mata yang bahkan kelopaknya tidak bisa menutup. Untuk tidur, ia harus mengenakan plester khusus agar matanya tidak terbuka.

"Kalau saya keluar, saya merasa matahari membakar saya. Saya tidur dan bangun esok harinya dengan titik kecil, dan dalam beberapa hari terus tumbuh seperti yang saya alami di mata dan tidak pernah berhenti tumbuh," kata Jardin dikutip dari Dailymail, Rabu (19/8/2015).

Baca juga: Xeroderma Pigmentosum, Kelainan Ini Bikin Pengidapnya 'Takut' Matahari

Di kota ini, Jardin tidak sendirian mengalami kondisi tersebut. Saudara-saudara dan tetangganya banyak yang mengidap penyakit serupa. Ada yang menganggapnya sebagai penyakit menular, ada pula yang menyebut hukuman dari Tuhan.

Pakar biologi genetika dari Sao Paolo, Dr Carlos Menck penasaran dengan merajalelanya penyakit XP di kota ini. Ia melakukan sejumlah pemeriksaan untuk mengungkap adanya mutasi genetik yang dialami para pasien.

"Sampai beberapa waktu lalu, orang menganggapnya penyakit menular. Tapi ini adalah penyakit yang diwariskan," kata Dr Menck.

Hasil pemeriksaan Dr Menck menunjukkan, 600 penduduk Kota Araras memiliki gen resesif yang berhubungan dengan penyakit XP. Penelusuran ke belakang mengerucut pada sebuah keluarga yang terdiri dari 3 warga asal Portugis.

"Di Araras ada konsentrasi orang dengan kesalahan genetik yang saling menikah satu sama lain, sehingga gen tersebut menjadi dominan dan penyakitnya muncul," kata seorang dokter kulit, Sulamita Chaibub.

Saat ini tidak ada pengobatan khusus untuk menyembuhkan XP. Para dokter hanya menganjurkan pasien untuk menjauhi terik matahari sama sekali. Diharapkan, anjuran ini akan dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang oleh generasi berikutnya.

Baca juga: Meski Penyandangnya Bisa Hidup Normal, Dapatkah XP Disembuhkan? (up/vit)

Berita Terkait