dr Ashwin Kandouw SpKJ dari Sanatorium Dharmawangsa mengungkapkan, mengobati gangguan bipolar tidak mudah, rumit, dan banyak kesulitan. Kesulitan yang dihadapi, pertama adalah kepatuhan pada pengobatan yang tidak baik.
"Ada rasa bosan minum obat pada pasien. Belum lagi kalau gejala timbul di peak satu atau dua yaitu di usia 15-19 tahun atau usia 20-24 tahun," kata dr Ashwin di sela-sela Seminar Media 'Kenali dan Pahami Peningkatan Libido pada Gangguan Bipolar' di Hotel Shagri-La, Jakarta, Rabu (19/8/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ini yang terjadi Saat Pasien Bipolar Seperti Marshanda Setop Minum Obat
Belum lagi stigma bahwa gangguan bipolar dianggap gangguan jiwa sehingga pasien malu mengakuinya. Faktor lain yang kerap menghambat pengobatan yakni kurangnya pemahaman akan gangguan bipolar. Menurut pengalaman dr Ashwin, seringkali bipolar disalahartikan dengan kepribadian ganda.
"Padahal bipolar itu identitas dianya tetap hanya emosinya saja yang berubah-ubah. Nah kalau kepribadian ganda, identitasnya berubah, hari ini jadi si A besoknya si B," kata dokter yang juga praktik di RS Pondok Indah ini.
Saat menghadapi fase manik pun pasien bisa merasa lebih pintar sehingga dia mengatur sendiri pengobatannya. Belum lagi respons pengobatan yang bervariasi di mana kondisi pasien bisa membaik dengan hanya satu macam obat. Sebaliknya, ada yang sudah mengonsumsi obat yang dikombinasi tapi hasilnya tidak optimal.
"Untuk membuat pasien lebih patuh, perlu pengawasan dan pemahaman juga dari keluarga. Guna menghilangkan stigma, perlu ditanamkan pula oleh orang terdekat bahwa bipolar bisa diatasi," kata dr Ashwin.
Baca juga: Kombinasi Obat Ini Disebut-sebut Bisa Atasi Depresi Akibat Bipolar
(rdn/vit)











































