Jumat, 28 Agu 2015 15:02 WIB

Begini Gejala Infeksi Amoeba Pemakan Otak

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Naegleria fowleri alias amoeba pemakan otak menginfeksi seseorang ketika air yang terkontaminasi masuk ke dalam tubuh melalui hidung. Makhluk ini juga bergerak ke otak sehingga menyebabkan primary amoebic meningoencephalitis (PAM), salah satu bentuk meningitis (radang selaput pelindung sistem saraf pusat) langka.

Tanda dan gejala infeksi Naegleria fowleri secara klinis mirip dengan bakteri meningitis. Karena itu di awal diagnosis, terkadang bukan PAM melainkan meningitis yang terdiagnosis.

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, gejala infeksi bakteri pemakan otak umumnya ringan, namun berangsur memburuk. Di fase awal, gejala yang dirasakan adalah sakit kepala parah, demam, mual dan muntah. Gejala ini umumnya dirasakan pada lima hari setelah infeksi, namun bisa juga dalam rentang 1-9 hari setelah hidung kemasukan air yang terkontaminasi Naegleria Fowleri.

Baca juga: Melihat Lebih Dekat Amoeba Pemakan Otak

Selanjutnya, gejala memburuk yang ditandai dengan sakit kepala frontal yang parah, demam, mual dan muntah. Sedangkan di fase kedua, gejalanya antara lain leher kaku, kejang, linglung, halusinasi dan bisa terjadi koma. Kematian bisa terjadi 5 hari setelah gejala awal dirasakan, namun bisa juga terjadi dalam rentang 1-18 hari.

"PAM sulit dideteksi karena penyakit berlangsung cepat sehingga diagnosis biasanya dibuat setelah kematian," demikian informasi CDC dan dikutip pada Jumat (28/8/2015).

Untuk itu CDC menyarankan orang-orang segera mencari bantuan medis kapanpun jika tiba-tiba mengalami serangan demam, sakit kepala, leher kaku dan muntah-muntah, terutama jika mereka baru-baru ini sempat berendam atau berenang di perairan yang hangat.

Pada pasien PAM asal AS yang berhasil selamat, kondisinya menunjukkan perbaikan setelah dirawat di rumah sakit selama sebulan. Efek samping pengobatan yang dilaporkan adalah berkurangnya sensasi di kaki selama dua bulan, namun kemudian berangsur-angsur membaik.

Tiga hari setelah pengobatan, pada pasien tersebut tidak terdeteksi adanya Naegleria fowleri. Kemungkinan ini karena strain Naegleria fowleri yang menginfeksi kurang menyebabkan penyakit, sehingga pasien lebih cepat sembuh.

Baca juga: Berenang di Sungai, Atlet Remaja Terserang Amoeba Pemakan Otak


(vit/up)