Studi yang dilakukan oleh European College of Neuropsychopharmacology (ECNP) kepada 2.811 pasien depresi melihat perilaku khusus sebelum akhirnya melakukan percobaan bunuh diri. Dari seluruh partisipan, diketahui 628 di antaranya pernah mencoba melakukan bunuh diri.
Baca juga: Pernah Depresi, Bintang Serial TV Ini Kampanyekan Kesadaran Kesehatan Mental
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari BBC, Senin (31/8/2015), perilaku tersebut adalah:
1. Perilaku Berisiko. Contohnya antara lain mengemudi ugal-ugalan serta melakukan hubungan seksual dengan siapa saja tanpa pengaman.
2. Kegelisahan psikomotor. Contohnya antara lain berjalan mondar-mandir di sekeliling ruangan atau sering meremas-remas tangan.
3. Tindakan impulsif, yang didefinisikan peneliti sebagai tindakan dengan tidak adanya rasa bertanggung-jawab, tidak memikirkan orang lain dan tidak mau menanggung konsekuensinya.
"Kami menemukan bahwa pada pengidap depresi berat yang berisiko tinggi melakukan bunuh diri, mereka memiliki kondisi mania atau terlalu senang, meskipun sedang depresi. Keadaan ini disebut sebagai depresive mixed states," tutur Dr Dina Popovic, salah satu peneliti dari ECNP yang melakukan studi ini.
Paul Farmer, aktivis kesehatan mental dari Mind, salah satu yayasan amal bagi pasien gangguan jiwa, mengatakan bahwa studi yang dilakukan ENCP sangat positif. Sebabnya, banyak dari masyarakat yang seringkali kaget atau tak tahu bahwa anggota keluarga mereka mengidap gangguan mental yang bisa saja berisiko melakukan bunuh diri.
"Banyak dari kita yang tak tahu mengapa adik, kakak, orang tua atau sahabat tiba-tiba bunuh diri. Karena itu, indikator-indikator ini sangat penting untuk diketahui, apalagi jika kita sedang mencemaskan seseorang yang sedang mengalami depresi," pungkasnya.
Baca juga: Minder, Anak Bisa Lukai Diri Sendiri dan Bunuh Diri
(mrs/up)











































