Studi terhadap 156 pasien stroke perokok dengan berbagai pola cedera di otak menunjukkan ada pola tertentu yang sepertinya bisa mengubah sifat kecanduan rokok. Para pasien yang bagian korteks insularnya rusak terutama ditemukan peneliti mampu berhenti merokok.
Salah seorang peneliti Amir Abdolahi menerbitkan temuan tersebut di dua jurnal internasional, Addiction dan Addictive Behaviors.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari 156 pasien 38 di antaranya alami kerusakan pada bagian korteks insular. Selama tiga bulan perkembangan diikuti, sebanyak 22 dari 32 pasien (70%) dengan luka di korteks insular berhenti merokok sementara hanya 38 dari 103 (37%) pasien dengan luka lainnya yang berhenti.
"Kita butuh studi lebih jauh agar kita bisa betul-betul memahami mekanisme dan peran apa yang terjadi di korteks insular. Tapi satu hal yang pasti ada sesuatu di dalamnya yang memengaruhi sifat adiksi," kata Amir seperti dikutip dari BBC pada Kamis (10/9/2015).
Amir mengatakan ke depan mungkin studi lainnya bisa mengeksplorasi bagaimana bila area korteks insular diberikan stimulasi seperti dengan teknik deep brain stimulation atau transcranial magnetic stimulation. Bagaimana pun korteks insular ini dapat menjadi target baru dalam ilmu terapi rehabilitasi rokok.
Terapi yang tersedia saat ini melibatkan obat yang bisa menghambat perasaan reward di otak bila ada nikotin masuk. Selain itu ada juga koyo atau permen karet nikotin yang berfungsi membantu mengatur dosis nikotin masuk ke tubuh pelan-pelan.
Baca juga: Ini Jenis Terapi yang Dilakukan Dokter untuk Menghentikan Kecanduan Rokok (fds/up)











































