Kelumpuhan setelah mendapat turunan vaksin polio ini muncul kembali setelah terakhir sempat terjadi di Mali pada tahun 2011. Diketahui, anak yang tak disebutkan namanya itu pun tidak terinfeksi virus polio liar, yang sudah berhasil dieliminasi di Afrika.
Di Afrika sendiri, setahun belakangan pun sudah tidak ditemukan lagi kejadian lumpuh akibat terinfeksi virus polio liar. Pada turunan vaksin polio, pilinan virus terbentuk ketika salah satu dari tiga virus dilemahkan. Namun, mutasi bisa terjadi ketika turunan vaksin diberikan secara oral, meskipun sebenarnya mutasi amat jarang terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Hamid S Jafari, direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk pemberantasan polio mengatakan konsekuensi mutasi pada vaksin oral tersebut bisa terjadi secara terus menerus. Padahal, selama ini pemberian vaksin secara oral umumnya lebih mudah dan lebih aman.
Berbeda halnya dengan 'vaksin pembunuh' yang tidak dapat bermutasi, namun pemberiannya harus dilakukan oleh profesional medis. Pemberian vaksin melalui injeksi juga harus dipertimbangkan lagi karena penggunaan jarum suntik bersamaan bisa saja menimbulkan risiko penyakit menular melalui penggunaan jarum suntik, seperti hepatitis C.
"Virus ini mungkin beredar di antara manusia namun sayangnya tidak terdeteksi karena sampel alat pembeku tidak dikirimkan selama wabah Ebola terjadi," ujar Dr Hamid, dikutip dari New York Times pada Selasa (15/9/2015).
Data WHO menunjukkan di dunia, pada tahun 2013 terjadi 66 kasus kelumpuhan akibat pemberian turunan vaksin polio. Jumlah kasus menurun menjadi 55 di tahun 2014. Sebanyak 12 kasus dilaporkan terjadi di Mali, 9 kasus di Madagascar, dan satu kasus di Nigeria.
Baca juga: Kisah Pria yang 'Beternak' Virus Hingga Berujung Mutasi Berbahaya
(rdn/up)











































