Kendati begitu, peneliti dari Australia menemukan pesan singkat atau SMS ternyata dapat dimanfaatkan oleh pasien dengan penyakit jantung. Untuk apa?
Untuk membuktikannya, peneliti melibatkan 700 pasien penyakit jantung, yang separuh di antaranya akan dikirimi empat pesan singkat dalam sepekan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semisal mereka yang merokok akan dikirim pesan singkat yang berisi dorongan untuk berhenti merokok, atau mereka yang mengalami kelebihan berat badan akan dikirimi pesan singkat berisi tips untuk memperbaiki pola makan atau melakukan olahraga yang pas untuk kondisinya.
Baca juga: Survei: Wanita Muda Habiskan Waktu 10 Jam Sehari untuk Gunakan Ponsel
Rupanya enam bulan kemudian, upaya ini telah memperlihatkan hasil yang memuaskan. Partisipan yang menerima SMS ini memperlihatkan adanya penurunan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam tubuhnya.
Bahkan tekanan darah dan berat badan pasien ikut menurun berkat SMS pengingat tersebut. Sebagian pasien juga dilaporkan berhenti merokok. Terbukti jumlah perokok yang semula mencapai 53 persen, berkurang hingga tinggal 26 persen di akhir studi.
"Selain simpel dan murah, pesannya juga terasa lebih personal karena kami mengatur agar nama partisipan muncul. Contohnya 'Hi Mike, don't forget physical activity is good for you! It reduces your risk of diabetes, heart attack, stroke and their complications'," terang Clara Chow, peneliti yang juga associate professor dari University of Sydney Medical School.
Chow menambahkan SMS semacam ini lebih bisa diterima oleh pasien yang notabene awam terhadap istilah medis maupun penjelasan tenaga medis. "Tidak jarang saat berada di rumah sakit, banyak sekali info yang diberikan, sehingga pasien yang baru saja mengalami serangan jantung menjadi kebingungan. Pulang dari rumah sakit pun, pasien tidak serta-merta bisa melakukan perubahan (gaya hidup, red)," pungkasnya.
Baca juga: Penyakit yang Muncul Akibat Suka Bawa Ponsel ke Tempat Tidur
Meski begitu, Dr Elliot Antman dari American Heart Association menekankan penelitian ini masih perlu dikaji ulang, terutama berkaitan dengan keberlangsungannya.
"Studinya hanya berlangsung selama enam bulan, dan peneliti tidak mengetahui apakah setelah itu pasien benar-benar masih mau mengadopsi gaya hidup sehat atau tidak," tandasnya.
Menurutnya, lebih efektif bila pasien tidak dikirimi pesan singkat dengan isi yang itu-itu saja. Isinya juga harus terus diganti, sehingga pasien juga tidak bosan. (lll/up)










































