dr Ahmad Fuady, MSc-HEPL, Kepala Klinik Dokter Keluarga (KDK) Fakultas Kedokteran Indonesia Kayu Putih mengatakan bahwa tidak ada batasan tertentu dalam konsumsi daging kambing. Dengan catatan, daging kambing disajikan dalam bentuk plain atau tidak berkuah.
Baca juga: Kolesterol atau Asam Urat Tinggi, Bolehkah Makan Daging Kambing?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa orang yang sehat dan jarang makan daging kambing tak memiliki batasan khusus. Ia mengatakan silakan saja makan daging kambing asal tidak berlebihan.
Sementara bagi pasien hipertensi, kadar kolesterol darahnya tinggi (dislipidemia), kadar asam urat darahnya tinggi (hiperuresemia), penderita kencing manis dan kegemukan memang harus lebih diperhatikan asupan daging kambingnya. Apalagi jika pasien gemar menyantap jeroan seperti usus, hati, limpa dan sejenisnya.
"Jero-jeroan dari kambing atau sapi selain meningkatkan kadar asam urat juga dapat meningkatkan kadar kolesterol darah kita. Oleh karena itu juga jangan dikonsumsi secara berlebihan," tuturnya.
Baca juga: Ciri-ciri Orang Kena Kolesterol Tinggi
Satu hal lagi yang harus diperhatikan adalah tidak memakan daging kambing atau sapi dengan jumlah banyak dalam waktu singkat. Memang masakan daging, terutama di hari raya, akan sangat menggoda lidah. Namun jika kita kebablasan dan makan tanpa perhitungan, risiko sembelit hingga penyakit lambung pun mengintai.
"Dampak langsung bisa saja terjadi sembelit setelah makan daging yang berlebihan, jika dikonsumsi daging berlebihan menjelang tidur maka akan merangsang terjadinya refluks isi lambung sehingga dapat mengganggu tidur," pungkas dr Ari. (mrs/up)











































