Minggu, 27 Sep 2015 14:10 WIB

Begini Proses Stem Cell Bisa Tumbuhkan Kembali Tulang yang Rusak

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Penerapan sel punca atau stem cell nantinya diharapkan dapat memperbaiki seluruh organ-organ yang rusak di tubuh. Saat ini di Indonesia riset yang berkembang fokus untuk memperbaiki masalah tulang.

dr Andri Lubis SpOT(K) dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) adalah salah satu peneliti yang melakukan riset stem cell untuk mengatasi masalah osteoarthritis. Pengidap kondisi tersebut tulang rawan pada lututnya alami kerusakan sehingga tulang paha dan tulang keringnya bisa bergesekkan langsung menimbulkan rasa sakit.

"Siapa saja bisa terkena osteoarthritis ini karena tulang rawan rusak bisa disebabkan cedera akibat aktivitas berat atau kalau pada orang tua memang karena sudah aus," kata dr Andri pada seminar stem cell di kantor Kalbe, Cempaka Putih, Jakarta, dan ditulis pada Minggu (27/9/2015).

Baca juga: Dengan Sel Punca, Tulang Rawan yang Rusak Bisa Ditumbuhkan Kembali

Pada satu contoh kasus seorang pasien berusia 23 tahun mengalami osteoarthritis dan stem cell digunakan dr Andri untuk meregenerasi tulang yang rusak. Langkah pertama dilakukan dengan mengekstraksi stem cell dari sumsum tulang belakang pasien sendiri agar nantinya mudah diterima kembali oleh tubuh.

"Kita kultur stem cell itu selama tiga-empat minggu. Selnya harus dipelihara, dikasih makan, dan medianya harus diganti setiap tiga hari. Seperti merawat bayi. Baru setelah sel berkembang cukup banyak dia bisa disuntikkan ke pasien" ujar dr Andri.

"Dulu lututnya mesti dibuka tapi sekarang enggak. Disuntikkan stem cell ini sama rangkanya supaya dia enggak lari ke mana-mana," lanjutnya.

Semua proses tersebut hingga menunjukkan hasil memakan waktu sampai enam bulan. Pada saat itu pasien yang sudah mendapat sel punca dilaporkan bisa kembali berjalan tanpa rasa sakit.

dr Andri mengakui sejauh ini sudah ada 15 pasien yang menjalani terapi sel punca untuk osteoarthritis dan hasilnya cukup baik. Ia mengakui karena terapi masih baru maka belum ada laporan untuk jangka panjangnya.

Baca juga: Menkes Ingin Peneliti Indonesia Mulai Kembangkan Riset Sel Punca


(fds/vit)