Apalagi si kecil berhasil menjalani IMD (inisiasi menyusu dini) selama 1 jam lebih dengan baik. Karena itu dia sama sekali tidak menyangka saat anaknya muntah darah dan sesak napas. Lalu bagaimana Laras menjalani hari-harinya?
Laras adalah salah satu pemenang kontes menulis Tambah ASI Tambah Cinta (TATC) yang bekerjasama dengan detikHealth. Berikut ini kisah Laras bangkit dari keterpurukan dan memperjuangkan pemberian air susu ibu bagi anaknya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhamdulillah proses IMD berjalan lancar. Setelah IMD, baru dilakukan pemotongan tali plasenta yang dilakukan sendiri oleh suamiku. Kemudian, Asyha dibawa ke ruang perawatan bayi untuk observasi awal 6 jam sebelum diantarkan ke kamar perawatanku untuk rooming-in.
Ketika Berita Buruk Datang
Kenyataannya adalah Aysha tidak pernah datang untuk rooming-in. Aku dan suami dipanggil ke ruang perawatan bayi saat aku sedang menjalani transfusi darah sebanyak 2 kantong darah karena HB (hemoglobin) yang rendah.
Jam 12 malam saat itu. Dokter menginfokan bahwa Asyha mengalami muntah darah, sesak napas dan ada retraksi (tarikan napas sangat dalam sampai tulang rusuk terlihat). Asyha harus pindah ke NICU secepatnya untuk mendapatkan bantuan alat yang bisa membantu paru-parunya bernapas. Rasanya seolah-olah jiwaku melayang.
Pada badan Asyha menempel alat yang mendeteksi detak jantung dan saturasi pernapasannya, infus cairan, selang oksigen dan selang OGT untuk menguras lambungnya dari darah. Diketahui dari hasil lab, darah yang dimuntahkan Asyha adalah darahku yang tidak sengaja tertelan ketika proses persalinan spontan (persalinan normal). Namun hasil ronsen dan lab untuk paru-parunya menerangkan bahwa Asyha mengalami pneumonia (radang paru-paru).
Merasa bersalah
Ibu mana yang hatinya tidak hancur melihat buah hatinya sakit, ditusuk-tusuk untuk mencari pembuluh darah, dipasang selang di sana-sini. Aku merasa bersalah, merasa tidak menjaganya dengan baik selama dalam kandungan. Aku menangis diam-diam dan takut kehilangan Asyha. Hormon yang belum seimbang pasca melahirkan hampir saja mendominasiku.
Bangkit
Kemudian suamiku mengingatkan bahwa yang Asyha butuhkan adalah ibu yang tegar karena adanya ikatan batin ibu dan anak. Maka aku bangkit. Aku memang tidak bisa rooming-in dan menyusui Asyha secara langsung tapi aku masih bisa pumping.
Jam 6 pagi, aku meminjam breast pump ke perawat. Sebelum pumping, aku menyempatkan diri untuk rileks. Pumpingan pertama berisi kolostrum sebanyak 40 ml yang kupumping selama 1,5 jam. Setelah itu secara berkala aku pumping 3 jam sekali. Semua ASIP dititipkan ke kulkas NICU sehingga ketika Asyha siap minum ASI, stoknya sudah ada.
![]() |
Saat aku diperbolehkan pulang 2 hari setelah melahirkan, sedih rasanya. Setiap hari, aku bolak balik ke RS untuk menjenguk Asyha.
Hari ke-empat dirawat, kadar bilirubin Asyha naik sehingga harus difototerapi. Beruntung jadwal fototerapi bersamaan dengan bersihnya lambung dari darah yang tertelan sehingga Asyha mulai bisa minum ASIP sebanyak 5 ml setiap 3 jam.
Rasanya hati seperti terpelintir melihat keadaan Asyha saat itu. Infusnya ada 2 macam: cairan dan nutrisi yang terpasang di 2 tempat. Ditambah selang oksigen, alat pendeteksi detak jantung dan saturasi pernapasan, selang NGT (sonde: untuk minum) yang menggantikan selang OGT plus kacamata fototerapi. Aku hanya bisa melihat dari Asyha luar boks kaca. Lagi-lagi rasa bersalah mendera dan air mata mengalir.
Perjuangan Pumping
Di rumah, aku terus pumping berkala. Sempat marmet (memerah dengan tangan) karena breast pumpku rusak. Karena marmet memakan waktu hampir 2 jam setiap kalinya, akhirnya aku membeli sparepart breastpump yang rusak.
Dengan breastpump, aku bisa menyingkat waktu pumping. Aku selalu percaya bahwa kebutuhan bayi biasanya sesuai dengan hasil pumping. Dan aku juga percaya mood dan suasana hati ibu memengaruhi keberhasilan ASI baik itu menyusu langsung atau pump.
Aku melakukan breast care seperti yang diajarkan oleh suster dan konselor laktasi di rumah sakit. Suami pun membantu dengan pijat oksitosin. Aku berjuang mengalahkan rasa bersalah, ketakutan dan cemas. Tetes demi tetes cairan emas aku tampung dengan penuh cinta. Perlahan tapi pasti stok ASIP pun meningkat.
Hari yang Ditunggu
ASIP yang diminum Asyha bertambah setiap harinya dan daya tahan tubuhnya pun bertambah. Tepat hari ke-8 di rawat, Asyha keluar dari NICU dan masuk ke ruang pemulihan. Hari ke 9, aku pun belajar menyusui langsung. Ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Akhirnya aku bisa memeluk Asyha untuk pertama kalinya setelah 9 hari.
Perjuangan berikutnya adalah pelekatan. Kondisi putingku yang terlalu besar untuk mulut mungil bayi, membuat proses pelekatanku dibantu dan diawasi oleh suster. Alhamdulillah setelah beberapa kali mencoba, Asyha berhasil menyusu langsung. Hari ke-10, Asyha pulang ke rumah. Tak terkira betapa bahagianya kami.
Ya, perjuanganku kali ini bukan melawan kondisi puting lecet atau ASI tidak keluar. Perjuanganku kali ini adalah melawan rasa bersalah, cemas, sedih, khawatir dan segala hal menakutkan lainnya agar ASI-ku tetap lancar. Perjuanganku kali ini harus pumping yang tidak distimulasi lidah bayi sampai pada hari ke-9. Tidak mudah memang melewati cobaan ini. Namun aku percaya, ketika Tuhan memberikan cobaan pasti sepaket dengan solusi-Nya hanya saja kita harus berusaha mencari solusi tersebut sendiri.
Halaman 2 dari 1












































