Alih-alih membaik, bengkak itu malah bertambah besar. Maria pun berobat ke dokter tak jauh dari rumahnya. Oleh dokter, dia diberi antibiotik. Sembuh? Tidak sama sekali. Selama tiga tahun dia tidak mendapat pengobatan dengan hasil yang memuaskan.
Maria pun pergi ke mana-mana untuk mencari pengobatan. Hingga benjolan di sekitar ketiaknya itu lantas dibiopsi di Dar es Salaam. Barulah terungkap Maria terkena kanker payudara. Sejak itu, dia menjalani pengobatan di Ocean Road Cancer Institute. Demikian dikutip dari situs Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan ditulis pada Senin (5/10/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Penelitian Ini Mengaitkan Tinggi Badan dengan Risiko Terkena Kanker
Apalagi kini suami Maria harus bekerja siang malam untuk membayar obat dan makan anak-anak mereka.Terpaksa mereka harus pinjam uang untuk menutupi kebutuhannya. Keterbatasan finansial juga membuat suami tidak bisa menjenguk Maria.
Kisah Maria, menurut WHO, umum terjadi di daerah dengan rumah sakit yang tidak dilengkapi fasilitas kesehatan yang baik. Bahkan Maria pernah berada di satu kamar perawatan bersama 30 pasien kanker lainnya.
Terkait kanker payudara, The International Agency for Research on Cancer (IARC) Globocan 2008 menyebut ada 1,38 juta kasus baru dan 458 ribu kematian akibat kanker payudara setiap tahun. Sebagian besar kematian, yakni sejumlah 269 ribu, terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah. Ini karena sebagian besar kasus dideteksi saat sudah stadium akhir.
Kurangnya kesadaran akan deteksi dini kanker payudara dan terhambatnya akses pelayanan kesehatan yang memadai menyumbang besarnya angka kematian pasien kanker payudara. Padahal kanker payudara bisa disembuhkan jika segera didiagnosis dan mendapat pengobatan yang memadai.
Baca juga: Begini Cara Kerja Beta Glukan Jamur Tiram Lawan Kanker Payudara
(vit/up)











































