Senin, 05 Okt 2015 16:30 WIB

Panik Normal atau Akibat Gangguan Kecemasan, Apa Bedanya?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Kecemasan yang dialami seseorang lumrah adanya. Namun, ketika yang bersangkutan merasa cemas berlebihan, bisa jadi ia mengalami gangguan kecemasan.

dr Suryo Dharmono SpKJ(K) menuturkan, gangguan kecemasan yang kerap ditemui yakni gangguan panik, phobia sosial, dan gangguan obsesif kompulsif. Ketika mengalami gangguan panik, seseorang akan merasa cemas seperti akan mengalami sesuatu yang fatal.

Serangan panik pun langsung muncul tiba-tiba, misalnya tiba-tiba pingsan atau sesak napas tanpa ada penyebab yang jelas. Begitu pun ketika dilakukan evaluasi medis, hasilnya baik-baik saja.

"Ketika evaluasi medis oke, gejala panik yang dialami bisa karena ada problem dengan kejiwaannya," tutur dr Suryo di usai diskusi Pekan Proyeksi Jiwa di Unika Atmajaya, Jakarta, Senin (5/10/2015).

Baca juga: Hati-hati, Terlalu Lama Duduk Juga Bisa Timbulkan Gangguan Kecemasan

Sedangkan, pada cemas yang normal, stressor-nya diketahui jelas. Misalnya jelang ujian atau menghadap atasan karena ada masalah di kantor seseorang merasa cemas, hal itu wajar. Sehingga, setelah stresor tidak ada alias masalah bisa terselesaikan, cemas pun tak dialami lagi.

Pada phobia sosial, seseorang bisa tegang menghadapi situasi sosial yang khusus. Sedangkan pada obsessive compulsive disorder (OCD), seseorang terlalu cemas sehingga ia berulang kali melakukan perbuatan yang sama. Misalnya, terlalu takut kotor maka ia akan mencuci tangannya berulang kali.

"Untuk penanganannya tergantung. Kalau gangguan panik bisa diberi obat, kalau phobia sosial atau OCD bisa dengan terapi psikologi. Tergantung situasinya. Gangguan kecemasan bisa disembuhkan, tapi bisa kambuh karena tiba-tiba ada stressor. Gangguan kecemasan umumnya menyerang orang dewasa muda usia 18-25 tahun," terang dr Suryo.

Baca juga: Jangan Salah, Masing-masing Wanita Punya Gejala PMS yang Berbeda Lho

(rdn/up)