Selasa, 06 Okt 2015 14:44 WIB

Youyou Tu, Penemu Obat Malaria Berbasis Herbal Tiongkok

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: scmp.com
Jakarta - Youyou Tu merupakan penemu artemisinin, obat yang secara signifikan mengurangi angka kematian akibat malaria. Siapa sangka, bahan dasar obat tersebut ternyata sudah digunakan sebagai obat tradisional di Tiongkok sejak ribuan tahun yang lalu.

Tu menemukan artemisinin dari tanaman Artemisia annua, atau yang biasa dikenal sebagai tanaman apsintus di Indonesia. Penggunaan tanaman ini untuk mengobati demam sebenarnya sudah dilakukan di Tiongkok sejak 1.700 tahun yang lalu. Namun Tu dengan kegigihannya berhasil mengekstrak bahan biologi aktif untuk menemukan artemisinin.

Baca juga: Satoshi Omura, Kecintaannya pada Mikroorganisme Diganjar Nobel Kesehatan

Awal penelitian Tu ternyata sedikit tragis. Tiongkok yang pada tahun 1969 dipimpin oleh Mao Zedong sedang gencar-gencarnya melakukan ekspansi militer. Dalam perang Vietnam, Tiongkok yang berafiliasi dengan Vietnam Utara kewalahan menghadapi pasukan Vietnam Selatan akibat wabah malaria.

Mao pun mengumpulkan peneliti dari seluruh negeri, termasuk Tu yang saat ini bekerja di Academy of Traditional Chinese Medicine, Beijing. Mereka mendapat tugas besar, membuat obat malaria agar pasukan di Vietnam Utara bisa berperang dengan kekuatan penuh.

"Pekerjaan ini merupakan prioritas utama sehingga aku dengan senang hati mengorbankan kehidupan pribadi," ungkap Tu, ketika mengenang awal perjalanannya menemukan artemisinin, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (6/10/2015).

Wanita kelahiran tahun 1930 lalu dikirim oleh pemerintah Tiongkok untuk mengunjungi daerah-daerah yang paling terdampak malaria. salah satunya adalah Hainan, daerah tropis di bagian selatan Tiongkok yang sudah bertahun-tahun mengalami wabah malaria.

Namun titik terang penemuan artemisinin malah ditemukan di Beijing. Tu yang memang memiliki latar belakang ilmu pengobatan tradisional menemukan bahwa tanaman apsintus pernah digunakan untuk mengobati demam akibat malaria pada zaman Dinasti Jin. Berbekal temuan tersebut, mereka pun memfokuskan penelitian kepada ekstrak tanaman apsintus.

Baca juga: William Campbell, Anak Petani yang Jadi Peraih Nobel Kesehatan

Meski pengendalian malaria mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk anopheles ini masih menewaskan lebih dari 500 ribu orang tiap tahun. Sebagian besar di antaranya adalah bayi dan anak-anak di wilayah termiskin di Afrika.

Selain Tu, dua peneliti lainnya yakni William Campbell dan Satoshi Omura juga meraih penghargaan nobel kesehatan 2015. Campbell dan Omamura menemukan avermectin, obat baru yang akan membantu memerangi berbagai jenis infeksi cacing. Di antaranya adalah Onchocerciasis atau river blindness, dan juga lymphatic filariasis atau kaki gajah. (mrs/up)