Virus Ebola Bisa Tinggal di Sperma Penyintas Hingga 9 Bulan

Virus Ebola Bisa Tinggal di Sperma Penyintas Hingga 9 Bulan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 15 Okt 2015 16:48 WIB
Virus Ebola Bisa Tinggal di Sperma Penyintas Hingga 9 Bulan
Foto: REUTERS/Amr Abdallah Dalsh
London - Di awal kemunculan wabah Ebola di Afrika, WHO meminta tim medis untuk terus memeriksa para penyintas dalam kurun tiga bulan setelah dinyatakan sembuh untuk memastikan virus itu benar-benar hilang. Apalagi virus ini bisa tinggal di dalam sperma dengan 'nyaman'.

Namun teori itu dilunturkan peneliti lain yang menemukan bahwa virus Ebola bisa bertahan dalam tubuh manusia hingga enam bulan setelah terinfeksi. Tapi nyatanya korban tetap berjatuhan walaupun tidak sebanyak ketika wabah Ebola pertama kali muncul.

WHO pun tergerak untuk melakukan penelitian baru untuk memastikan hal ini. Hasilnya, virus Ebola tak lagi hanya bertahan 3 atau 6 bulan saja, tetapi sampai 9 bulan lamanya. Fakta ini didapat peneliti setelah mengamati sampel air mani dari 93 pria asal Sierra Leone.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Virus Ebola Ditemukan di Mata Seorang Dokter yang Sudah Dinyatakan Sembuh

Hanya saja peneliti belum dapat memastikan apakah itu berarti virusnya masih dapat menginfeksi atau tidak. Namun nampaknya risiko tersebut cenderung menurun dari waktu ke waktu. Terbukti virus Ebola tetap terdeteksi dalam tubuh 9 pria yang sudah menjalani pemeriksaan yang sama 2-3 bulan setelah gejalanya pertama kali muncul. Kendati begitu, virus ini hanya ditemukan pada 11 dari 43 penyintas yang diperiksa lagi di bulan ke-7 dan 9.

"Kami tak paham mengapa Ebola bisa tetap berada dalam air mani dalam waktu selama itu, dan apakah ini juga bisa menular atau tidak. Mungkin ada potensi ke sana tapi kami tak benar-benar yakin," tutur Dr Nathalie Broutet, ahli penyakit menular seksual dari WHO dan salah satu peneliti seperti dikutip dari ABC News, Kamis (15/10/2015).

Permasalahan lain muncul ketika Dr Francis Moses, salah satu tim medis yang bertugas di Sierra Leone bagian utara mengaku kewalahan untuk meyakinkan agar para penyintas Ebola menggunakan kondom atau puasa berhubungan setelah dinyatakan pulih.

"Di distrik kami, ada sejumlah wanita yang sedang hamil dan kebetulan suaminya adalah penyintas Ebola. Mereka tidak bisa diberitahu," paparnya.

Baca juga: Seks dan Masturbasi Hambat Upaya Pengentasan Ebola

Untungnya, penularan virus Ebola lewat hubungan seksual tergolong langka. Selain lewat hubungan seksual, sebagian besar kasus Ebola yang ditemukan menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti darah, air liur, air susu ibu (ASI) dan urine. (lll/up)

Berita Terkait