Pada percobaan ke manusia, pasien yang meminum obat percobaan menunjukan tanda pengurangan keinginan akan alkohol. Di studi yang terpisah, dikatakan bahwa obat tersebyt bekerja mengendalikan kadar dopamin.
Baca juga: Pria Ini Tak Konsumsi Gula dan Alkohol dalam Sebulan, Bagaimana Efeknya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obat-obatan yang ada sekarang untuk ketergantungan alkohol tidak sepenuhnya efektif. Populasi pasien secara genetis beragam, jadi hanya menguntungkan kelompok tertentu. Maka dari itu, kebutuhan untuk obat-obatan yang lebih baik sangat besar.
Alkohol membuat sistem reward pada otak melepaskan dopamine lebih dari biasanya, memicu perasaan sejahtera. Tetapi, semakin banyak alkohol yang diminum, semakin peka sistem reward dan semakin sedikit dopamin yang dilepas.
Pada akhirnya, seseorang akan meminum alkohol tidak hanya untuk merasa gembira, tetapi juga untuk mencapai keadaan fisik dan emosional yang normal. Saat itulah, mulailah kita kecanduan.
Baca juga: Wah, Risiko Perilaku Mengemudi Ugal-ugalan Bisa Dilihat Sejak SMP
(rdn/up)











































