Hal ini dipicu setelah adanya perdebatan sengit terhadap ketidakpastian potensi aspirin memiliki kualitas anti kanker. Jika terbukti, peneliti mengatakan hal ini akan sangat berdampak karena artinya pasien bisa survive dengan cara yang lebih murah dan efektif.
Studi akan dilakukan dengan cara membandingkan data dari kelompok pasien yang menerima obat bohong-bohongan (placebo) dan kolompok-kelompok yang menerima aspirin dalam berbagai dosis. Nantinya setelah 12 tahun tingkat kejadian kembalinya kanker akan dibandingkan di antara kelompok tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Uji ini sangat menarik karena kanker yang kembali seringnya sulit untuk diobati. Jadi menemukan cara murah dan efektif untuk mencegahnya akan sangat berarti untuk pasien," kata dr Fiona Reddington dari Cancer Research UK seperti dikutip dari BBC pada Selasa (27/10/2015).
Diketahui sebelumnya ada riset yang menunjukkan bahwa aspirin bisa mencegah kanker tahap dini untuk kembali. Namun saat itu studi tak disertai dengan percobaan sehingga buktinya kurang jelas.
Ada kelompok ilmuwan yang berhati-hati dan memperingatkan bahwa konsumsi aspirin tak bisa sembarangan karena belum tentu cocok untuk semua orang. Bila mengonsumsi satu tablet setiap hari ada efek samping yang bisa muncul seperti sariawan, pendarahan di perut atau bahkan di otak.
"Uji klinis ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada tersebut sekali untuk selamanya," ujar pemimpin studi Profesor Ruth Langley.
Baca juga: Aspirin Bisa Jadi Obat Ketombe (fds/vit)











































