Wah, Dua Siswi SMA Manis Ini Ternyata Duta Sanitasi Lho

Wah, Dua Siswi SMA Manis Ini Ternyata Duta Sanitasi Lho

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 02 Nov 2015 17:35 WIB
Wah, Dua Siswi SMA Manis Ini Ternyata Duta Sanitasi Lho
Foto: Muhamad Reza Sulaiman
Jakarta - Masih sekolah bukan berarti tak boleh peduli lingkungan. Dua siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) ini buktinya.

Ya, Annisa Nur Ratnasari, siswi kelas XII SMA 93 Jakarta dan Fitria Susan Meliyana, siswi kelas X SMU 14, merupakan dua siswi SMA yang terpilih sebagai duta sanitasi provinsi DKI Jakarta. Annisa terpilih pada tahun 2012, sedangkan Susan terpilih pada tahun 2014.

Kedua siswi ini terpilih karena memiliki ide soal sanitasi yang cemerlang. Annisa yang sekolahnya bersebelahan dengan pasar induk Kramat Jati mengaku sedih, kesal sekaligus melihat kebiasaan pekerja pasar yang tak memerhatikan kesehatan dan kebersihan lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Target Sanitasi dan Air Minum 100 Persen pada 2019, Mampukah Tercapai?

"Kerjanya mereka kan banyak di pasar, kotor tapi makan langsung nggak pakai cuci tangan. Lingkungan juga kotor sampah dibuang sembarangan. Makanya saya mulai dari yang kecil-kecil dulu dan nggak berat seperti cuci tangan dan memilah sampah," tutur Annisa, ditemui usai konferensi pers di Gedung Bappenas, Jl Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2015).

Sementara Susan juga memiliki kekhawatiran yang sama. Sampah di dekat sekolahnya di daerah Cawang-UKI seringkali tak terangkut. Akibatnya sampah memenuhi jalan dan membuat kotor lingkungan.

Berawal dari keprihatinan ini, Annisa dan Susan melakukan sosialisasi sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Annisa meminta para pekerja pasar untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, memisahkan sampah plastik dan membersihkan lingkungan. Sementara Susan berencana membuat jadwal pengambilan sampah teratur sehingga sampah organik tak tercampur dengan sampah anorganik.

Meski begitu, bukan berarti rencana mereka berjalan tanpa hambatan. Susan mengatakan hambatan datang dari Ketua RW di daerahnya. Ketua RW pesimistis upaya yang dilakukan Susan akan sia-sia karena karakter masyarakat yang sudah diubah.

Annisa tak jauh berbeda. Ia kerap dicap menggurui para pekerja pasar. Sempat ragu, namun Annisa akhirnya menemukan cara untuk melakukan kampanyenya.

"Kita mulai dari yang kecil-kecil dulu. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan kan nggak repot. Saya juga kasih tahu sampah plastik dipisahin karena kan bisa dijadiin duit lagi. Begitu dengar ada nilai ekonominya, mereka langsung minat," paparnya.

Baca juga: Menteri PPN: Sanitasi dan Air Minum Merupakan Investasi untuk Pembangunan

Susan yang belum sempat melaksanakan aksinya akhrinya memilih berputar haluan. Ia pun berencana untuk bekerjasama dengan ekskul mading di sekolahnya. Tujuannya adalah untuk membuat mading yang berisikan ajakan dan info seputar sanitasi dan PHBS.

"Jadi kita ngumpulin liputan dari berbagai media terus ditempel. saya juga berencana untuk membuat bank sampah supaya ada nilai ekonominya sehingga masyarakat lebih berminat," pungkasnya. (mrs/up)

Berita Terkait