Selasa, 10 Nov 2015 14:05 WIB

4 Aspek Ini Penting dalam Program Rehabilitasi Korban NAPZA

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Ilustrasi (Foto: ANTARA FOTO/M N Kanwa)
Jakarta - Program rehabilitasi korban NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) ternyata terdiri dari 4 aspek penting. Apa saja?

Prof Dr dr Dadang Hawari, Psikiater dari Madani Mental Health Care Foundation mengatakan ada 4 aspek penting dalam program rehabilitasi korban NAPZA. 4 Aspek ini adalah biologi, psikologi, sosial dan spiritual.

"Biologi untuk menghilangkan kecanduannya, psikologi untuk kesehatan mental, sosial untuk aktivitas dan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. 4 aspek ini tak bisa dipisahkan dalam rehabilitasi korban NAPZA," tutur Prof Dadang, dalam talkshow di Kementerian Sosisal, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (10/11/2015).

Dijelaskan Prof Dadang bahwa aspek biologi diperlukan dalam pengobatan kecanduan. Kecanduan NAPZA merupakan akibat dari rusaknya sistem transmisi saraf di otak. Dengan pengobatan, Prof Dadang mengatakan kecanduan ini bisa dihilangkan.

Setelah kecanduan dihilangkan, korban tidak akan lagi merasa sakaw yang diakibatkan oleh gejala putus obat (withdrawal syndrome). Dari situ, korban mendapat dukungan psikologi yang berasal dari keluarga.

"Keluarga dan orang tua harus bisa menghilangkan stigma, mencintai anaknya, mendukung anaknya dalam program rehabilitasi. Tidak bisa dengan asal masukkan panti lalu tidak dijenguk. Di sini peran keluarga dan orang tua sangat krusial," terangnya.

Baca juga: Menkes Nila: Soal Narkoba, Orang Indonesia Terlalu 'Kreatif' 

Setelah itu, korban yang sudah menjalani rehabilitasi akan diajak untuk melakukan kegiatan sosial. Prof Dadang menyebut kegiatan sosial bisa apa saja mulai dari olahraga, bermain musik hingga jalan-jalan. Kegiatan sosial penting untuk membuat anak sibuk dan menjauhi NAPZA.

Terakhir adalah spiritual. Aspek spiritual tak bisa dilepaskan karena pendekatan agama memiliki manfaatnya sendiri. Dengan melakukan pendekatan agama korban diharapkan mengerti bahwa penggunaan NAPZA merugikan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga.

Sayangnya, tak semua panti rehabilitasi menganut konsep ini. Prof Dadang mencontohkan bahwa banyak panti rehabilitasi di Indonesia tak maksimal karena aspek yang dilakukan hanya satu atau sebagian.

"Kalau di pesantren rehabilitasi kan di Indonesia juga banyak, tapi yang dilakukan cuma spiritual saja. Atau berobat ke dokter hanya pengobatan atau biologi saja, spiritual nggak ada. Kalau di Madani 4 aspek ini kita lakukan bersamaan, tidak dipisahkan," ungkapnya.

Baca juga: Hepatitis C Tak Cuma Penyakit Para Pecandu, Semua Orang Punya Risiko  (mrs/up)