ADVERTISEMENT

Selasa, 10 Nov 2015 20:00 WIB

Peneliti Sebut Kurus Tapi Berperut Besar Lebih Bahaya Ketimbang Obesitas

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Foto: Thinkstock/Rudyanto Wijaya
Jakarta - Istilah skinny fat atau kurus tapi gemuk mungkin masih cukup asing di telinga masyarakat Indonesia. Yang dimaksud kurus tapi gemuk adalah mereka yang punya tubuh kurus namun punya perut besar akibat tumpukan lemak di sekitarnya.

Meskipun lemak tubuh berlebihan yang menyebabkan orang obesitas kerap dikaitkan dengan segudang masalah kesehatan, namun lemak perut justru disebut lebih mengkhawatirkan. Mengapa? Karena bisa memicu peradangan sistemik seluruh tubuh.

Mereka yang terlalu banyak menumpuk lemak di perut disebut obesitas sentral. Ini bukan perkara main-main karena bisa mengakibatkan tekanan yang lebih besar pada jantung dan di tempat lain. Bahaya ini antara lain disebut dalam studi tahun 2014 di BMJ Open yang mengatakan obesitas sentral bisa menjadi indikator yang lebih baik terkait risiko penyakit kardovaskuler pada perempuan ketimbang indeks masa tubuh.

Baru-baru ini dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Annals of Internal Medicine menegaskan bahaya gemuk tapi kurus. Studi dilakukan dengan melibatkan 15.184 orang dewasa berusia 18 hingga 90 tahun.

Selama 14 tahun, perkembangan orang-orang tersebut diikuti. Peneliti lantas menggunakan data itu untuk melihat risiko kematian yang berhubungan jantung dan risiko kematian akibat lemak tubuh yang menumpuk.

Dari data diperoleh bahwa orang yang memiliki berat badan normal serta indeks masa tubuh normal namun memiliki obesitas sentral memiliki risiko kematian yang lebih tinggi. Peneliti berspekulasi lemak visceral yang disimpan di sekitar perut lebih berbahaya ketimbang lemak subkutan (lemak di bawah kulit) karena bisa meningkatkan resistensi insulin.

"Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas berdasarkan indeks masa tubuh, mungkin memiliki lemak subkutan yang lebih besar di pinggul dan kaki. Lemak ini dikaitkan dengan profil metabolik yang lebih sehat," tulis peneliti seperti dikutip dari berbagai sumber dan ditulis pada Selasa (10/11/2015).

Baca Juga: Studi Ini Sebut Stimulasi Otak Bisa Kontrol Nafsu Makan

Walaupun begitu, tidak berarti jika Anda memiliki kelebihan berat badan atau obesitas lebih sehat dibandingkan orang yang memiliki berat badan normal. Sebab obesitas dianggap sebagai faktor risiko penyakit jantung dan diabetes.

Penelitian ini menggarisbawahi bahwa pengukuran berat badan ideal menggunakan indeks masa tubuh kurang akurat. Sebab pengukuran tidak membedakan antara lemak dan otot. Padahal otot ditengarai lebih berat. Selain itu tidak dipertimbangkan di area tubuh mana lemak banyak menumpuk. Karena itu dalam penelitian ini, peneliti tidak hanya melihat indeks masa tubuh tetapi juga rasio pinggang-pinggul.

"Studi selanjutnya perlu memfokuskan pada faktor-faktor yang berhubungan dengan perkembangan berat badan normal, obesitas sentral dan keterkaitannya dengan kesehatan," ucap peneliti.

Peneliti juga menyarankan agar orang-orang dengan berat badan normal tetapi memiliki lemak tubuh di perut agar mulai mengubah gaya hidupnya.

Baca Juga: Perbaikan Ekonomi Tingkatkan Angka Pengidap Diabetes di China 

(vit/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT