Jumat, 13 Nov 2015 11:03 WIB

Menkes Berpesan Agar Masyarakat Cerdas Gunakan Obat

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Sering kali orang minum antibiotik tanpa resep dokter. Menkes Nila Moeloek pun berpesan agar masyarakat cerdas dalam menggunakan obat.

Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek mencanangkan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat). Ini merupakan pesan bagi masyarakat agar tidak mengonsumsi obat sembarangan.

"Kita inginnya masyarakat menggunakan obat secara rasional ya. Minimal tidak menggunakan antibiotik tanpa resep dokter," tutur Menkes Nila saat mencanangkan gerakan tersebut sembari membuka Pameran Pembangunan Kesehatan 2015 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat (13/11/2015).

Untuk diketahui antibiotik bukanlah pbat dewa yang bisa mengatasi berbagai macam penyakit. Pada penyakit yang diakibatkan virus, antibotik tidak berpengaruh apa-apa. Perlu diingat, penggunaan antibiotik yang sembarangan bisa menyebabkan resistensi antibiotik.

Baca juga: Ingat! Dalam Keseharian, Antibiotik Bukan Digunakan untuk Mencegah Infeksi

Pada kesempatan yang sama, Menkes juga mencanangkan program dokter layanan primer (DLP). Program ini bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan kompetensi para dokter yang bekerja di fasilitas primer.

Menristek Dikti, M Nasir yang juga hadir pada kesempatan ini mengatakan kerjasama antara Kemenristek Dikti dengan Kemenkes penting untuk meningkatkan kompetensi dokter layanan primer. Nantinya, dokter-dokter di layanan primer akan mempunyai kompetensi setara dokter spesialis.

"Jadi SKS mirip dengan spesialis, tapi dia bukan spesialis. Jadi dia selevel S2, SKS-nya lebih dari 50," tutur Nasir, di kesempatan yang sama.

Menkes Nila berharap dokter di pelayanan primer mampu memiliki ciri the Five Stars Doctor, yaitu dokter yang mampu berperan sebagai penyedia pelayanan kesehatan (care provider), pengambil keputusan (decision-maker), komunikator yang baik (communicator), pemimpin masyarakat (community leader), dan pengelola manajemen (manager) diharapkan dapat menyelesaikan 80-90 persen permasalahan kesehatan di layanan primer.

Baca juga: Kemenkes: Dokter Layanan Primer Bisa Perkuat Fasyankes Primer

"Untuk itu pelayanan primer membutuhkan Dokter Layanan Primer, seorang dokter yang ahli di layanan primer untuk menjadi gatekeeper yang handal dan berada di tengah-tengah masyarakat untuk mendukung lahirnya generasi cinta sehat," pungkasnya.

Pameran Pembangunan Kesehatan berlangsung dari tanggal 13-15 November 2015. Terdapat 150 stand yang terdiri dari eselon I Kementerian Kesehatan, BPOM, BPJS, industri farmasi, industri alat kesehatan, industri obat tradisional, dan lain-lain. (mrs/vit)