Senin, 16 Nov 2015 20:28 WIB

Banner Penularan HIV di Commuter Line Salah, Kemenkes Minta Maaf

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: twitter @puspromkes Foto: twitter @puspromkes
Jakarta -

Penumpang commuter line dihebohkan dengan munculnya banner tentang penularan human immunodeficiency virus (HIV) yang muncul di gerbong kereta. Pasalnya, banner tersebut berisi info yang tidak benar terkait cara-cara penularan HIV. Kementerian Kesehatan meminta maaf atas kesalahan ini.

Dalam banner yang didominasi warna kuning tersebut tertulis bahwa HIV menular melalui gigitan nyamuk, berenang bareng, makan bareng, keringat, bersin dan air liur. Di dalam banner itu juga terdapat kalimat 'Aku Bangga Aku Tahu' serta pita merah lambang kepedulian HIV-AIDS.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI dr HM Subuh MPPM menjelaskan bahwa memang ada kesalahan pembuatan banner. Ia meminta maaf kepada masyarakat yang resah atas kejadian ini.

"Jadi di situ sebenarnya ada kata "tidak"-nya. Kalimatnya seharusnya 'Aku bangga aku tahu HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk, berenang, makan, keringat dan air liur'. Tapi kata "tidak"-nya hilang," katanya ketika dihubungi detikHealth, Senin (16/11/2015) malam.

"Dari pihak pemasangnya tidak konfirmasi dahulu ke Promosi Kesehatan Kemenkes, langsung dipasang, belum diverifikasi. Makanya terjadi kesalahan," imbuhnya.
 
dr Subuh menjelaskan banner itu dipasang di gerbong-gerbong KRL pada Sabtu (14/11) malam. Kesalahan langsung diketahui dua jam setelah pemasangan. Namun karena terkendala waktu, pencopotan baru dilakukan hari Minggu (15/11) pagi.

Klarifikasi dan permintaan maaf juga sudah dikeluarkan lewat akun twitter Pusat Promosi Kesehatan (@puspromkes) pada 15 November dengan bunyi sebagai berikut: "Kami mohon maaf atas kekeliruan media kie #HIV di #KRL, saat ini sedang proses penarikan semua media tersebut @puskomdepkes @BanggaAkuTahu".

dr Subuh berharap kesalahan ini tidak terulang lagi di kemudian hari. Meski begitu, ia mengatakan kejadian ini ada hikmahnya.

"Ada sisi positifnya di balik kejadian ini. Masyarakat ternyata memang sudah aware kan. Kalau mereka nggak aware, nggak akan tahu ada kesalahan. Alhamdulillah. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang," tutupnya.

(mrs/nrl)