"Sel di otak itu ada miliaran. Kalau matinya sebagian kecil, misalnya hanya satu persen maka pengaruhnya tentu hanya sedikit. Kalau 50 persen ya sebagian besar terganggu," ujar dr Mahdian Nur Nasution, SpBS dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (27/11/2015).
Jika semua sel otak sudah mati dan yang tersisa hanya batang otak, maka sebagian besar fungsi tubuhnya sudah terganggu. Di mana yang bersangkutan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Umumnya pasien bisa membuka mata, kadang bahkan lidahnya bisa keluar. Namun anggota tubuh tidak bisa berfungsi seperti sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau gangguan fungsi, bisa pulih lagi, bisa membaik. Tapi kalau sudah mati tentu tidak bisa dipulihkan karena sifatnya permanen," imbuhnya.
Baca juga: Mengapa Dehidrasi Bisa Sebabkan Kerusakan Otak? Ini Penjelasan Dokter
Dijelaskan dr Mahdian, seseorang dengan kerusakan otak bisa saja panjang umur asalkan dirawat dengan baik, dalam artian diberi makanan dan dijaga dari segala infeksi. Akan tetapi yang bersangkutan tidak bisa hidup secara normal.
"Umumnya kalaupun kemudian meninggal, maka penyebab kematiannya adalah pneumonia, infeksi paru, demam tinggi. Ketika ada infeksi bakteri tidak mendapat antibiotik. Kalau misal muncul borok, misalnya di bokong lalu tidak diobati dengan baik juga bisa mengakibatkan kematian," tutur dr Mahdian.
Jadi, kerusakan otak tidak menyebabkan kematian. Namun kematian pasien umumnya disebabkan hal lain. Selain itu, pasien yang mengalami kerusakan otak, ototnya juga biasanya mengecil. Mengapa? Karena anggota tubuhnya tidak digerakkan.
Baca juga: Bermula Dehidrasi Parah, Pria Ini Alami Kerusakan Otak
(vit/mrs)











































