Manajer Riset dan Pelayanan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), mengatakan universitas adalah motor penggerak di mana peneliti bisa fokus murni pada proses riset dan pengembangan. Namun karena hal itu juga makanya apa saja yang dihasilkan tak dapat langsung dinikmati masyarakat.
"Kalau peneliti meriset sesuatu mereka tak memikirkan berapa lama waktu dan berapa besar biaya yang dibutuhkan. Semua penelitian itu sangat berpotensi lari ke industri tapi kacamata peneliti dan bisnis pasti beda sehingga butuh penengah," kata dokter yang akrab disapa dengan dr Iko pada seminar media di kantor MERCK, Jalan TB Simatupang, Jakarta Timur, seperti ditulis Rabu (9/12/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses menyamakan 'kacamata' antara peneliti dan industri ini lah yang disebut transfer teknologi dan memungkinkan riset bisa menjadi produk untuk dinikmati masyarakat.
Indonesia dikatakan oleh dr Iko lemah pada proses transfer teknologi. Tak ada lembaga khusus yang berdiri menjadi jembatan penghubung di antara peneliti di pusat-pusat riset universitas dan pebisnis di Industri.
"Butuh Technology Transfer Office (TTO) untuk membantu peneliti mencarikan uang dan memberikan paten. Untuk industri dia membantu mencari apa-apa saja yang dibutuhkan dari studi," kata dr Iko. (fds/up)










































