Pilih-pilih Obat Pereda Nyeri, Seperti Apa yang Paling Pas?

Pilih-pilih Obat Pereda Nyeri, Seperti Apa yang Paling Pas?

Nurvita Indarini - detikHealth
Selasa, 15 Des 2015 12:03 WIB
Pilih-pilih Obat Pereda Nyeri, Seperti Apa yang Paling Pas?
Foto: Thinkstock
Jakarta - Saat rasa nyeri melanda dan begitu mengganggu, mengambil painkiller menjadi pilihan. Karena ada banyak jenisnya, painkiller seperti apa sih yang pas?

Neal Patel dari Royal Pharmaceutical Society mengatakan ada empat hal yang harus diperhatikan saat memilih painkiller atau pereda rasa nyeri. Apa saja? Yuk, simak penuturannya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (15/12/2015):

1. Baca Kandungannya

Foto: Thinkstock
Ada banyak merek painkiller di pasaran. Saat akan membeli, pastikan Anda membaca kandungannya terlebih dahulu. Untuk diketahui, kandungan painkiller bisa ibuprofen, parasetamol, maupun aspirin.

2. Bagian Tubuh Mana yang Terasa Nyeri?

Foto: Thinkstock
Lalu painkiller dengan kandungan apa yang harus dipilih? Menurut Patel, itu tergantung bagian tubuh mana yang terasa nyeri. Dijelaskan Patel, parasetamol baik untuk mengatasi sakit kepala dan sakit gigi. Parasetamol juga disebut baik untuk menurunkan demam, sehingga pas jika dikonsumsi seseorang yang demam karena flu.

Sementara ibuprofen bekerja sangat baik ketika muncul nyeri yang disertai peradangan, misalnya arthritis atau nyeri sendi.

Sedangkan aspirin, lanjut Patel, memiliki efek anti-inflamasi yang mirip dengan ibuprofen. Akan tetapi Patel mengingatkan bahwa kandungan ini memiliki efek samping pada beberapa orang. Untuk alasan keamanan juga tidak boleh diberikan kepada anak-anak di bawah usia 16 tahun.

3. Berapa Banyak yang Dikonsumsi?

Foto: Thinkstock
Patel menyarankan agar dosis yang diambil dimulai dari yang paling rendah. Kadang beberapa obat penghilang nyeri dikombinasikan dengan kodein, yakni sejenis obat golongan opiat yang digunakan untuk mengobati nyeri sedang hingga berat. Jika Anda menemukan kandungan co-codamol maka artinya parasetamol yang ditambah kodein.

Kombinasi tersebut memiliki efek yang lebih kuat daripada parasetamol ataupun ibuprofen saja. Namun harus diperhatikan dalam penggunaannya karena kodein bisa mengakibatkan kecanduan sehingga tidak boleh dikonsumsi lama-lama.

Ada baiknya Anda mengonsultasikan dengan apoteker untuk mengantisipasi penggunaan obat berlebihan. Selain itu jika rasa nyeri tidak juga hilang, segeralah berkonsultasi ke dokter.

4. Cek Efek Sampingnya

Foto: Thinkstock
Beberapa obat memiliki efek samping. Jadi sebelum mengonsumsi painkiller, Anda mengecek efek sampingnya. Soal efek samping dan kontraindikasi biasanya sudah dilampirkan di label kemasan obat. Jika tidak yakin dengan penggunaan dan efek sampingnya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter atau apoteker. Apalagi jika di saat yang sama Anda sedang minum obat lain.

Selain itu sebenarnya tidak semua rasa nyeri membutuhkan painkiller. Contohnya jika Anda mengalami nyeri otot usai olahraga, jangan buru-buru mongonsumsi painkiller. Sebaiknya Anda istirahat dulu lalu kompres dengan es, serta tinggikan bagian tubuh yang terasa nyeri misalnya dengan menyangga menggunakan bantal.
Halaman 2 dari 5
Ada banyak merek painkiller di pasaran. Saat akan membeli, pastikan Anda membaca kandungannya terlebih dahulu. Untuk diketahui, kandungan painkiller bisa ibuprofen, parasetamol, maupun aspirin.

Lalu painkiller dengan kandungan apa yang harus dipilih? Menurut Patel, itu tergantung bagian tubuh mana yang terasa nyeri. Dijelaskan Patel, parasetamol baik untuk mengatasi sakit kepala dan sakit gigi. Parasetamol juga disebut baik untuk menurunkan demam, sehingga pas jika dikonsumsi seseorang yang demam karena flu.

Sementara ibuprofen bekerja sangat baik ketika muncul nyeri yang disertai peradangan, misalnya arthritis atau nyeri sendi.

Sedangkan aspirin, lanjut Patel, memiliki efek anti-inflamasi yang mirip dengan ibuprofen. Akan tetapi Patel mengingatkan bahwa kandungan ini memiliki efek samping pada beberapa orang. Untuk alasan keamanan juga tidak boleh diberikan kepada anak-anak di bawah usia 16 tahun.

Patel menyarankan agar dosis yang diambil dimulai dari yang paling rendah. Kadang beberapa obat penghilang nyeri dikombinasikan dengan kodein, yakni sejenis obat golongan opiat yang digunakan untuk mengobati nyeri sedang hingga berat. Jika Anda menemukan kandungan co-codamol maka artinya parasetamol yang ditambah kodein.

Kombinasi tersebut memiliki efek yang lebih kuat daripada parasetamol ataupun ibuprofen saja. Namun harus diperhatikan dalam penggunaannya karena kodein bisa mengakibatkan kecanduan sehingga tidak boleh dikonsumsi lama-lama.

Ada baiknya Anda mengonsultasikan dengan apoteker untuk mengantisipasi penggunaan obat berlebihan. Selain itu jika rasa nyeri tidak juga hilang, segeralah berkonsultasi ke dokter.

Beberapa obat memiliki efek samping. Jadi sebelum mengonsumsi painkiller, Anda mengecek efek sampingnya. Soal efek samping dan kontraindikasi biasanya sudah dilampirkan di label kemasan obat. Jika tidak yakin dengan penggunaan dan efek sampingnya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter atau apoteker. Apalagi jika di saat yang sama Anda sedang minum obat lain.

Selain itu sebenarnya tidak semua rasa nyeri membutuhkan painkiller. Contohnya jika Anda mengalami nyeri otot usai olahraga, jangan buru-buru mongonsumsi painkiller. Sebaiknya Anda istirahat dulu lalu kompres dengan es, serta tinggikan bagian tubuh yang terasa nyeri misalnya dengan menyangga menggunakan bantal.

(vit/up)

Berita Terkait