Berbagai upaya dilakukan untuk memerangi sampah. Salah satunya melalui program bank sampah, yang pada prinsipnya bekerja dengan mengumpulkan dan memilah-milah sampah yang punya nilai ekonomi. Sebagian didaur ulang, sebagian lagi dibuat kompos.
Bank sampah kini bisa ditemukan di mana saja, salah satunya di pinggiran kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman. Bank Sampah Handayani namanya, sesuai dengan nama salah seorang pengelolanya yakni Ibu Sri Handayani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() Bank sampah di Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Uyung/detikHealth) |
Baca juga: Masih Uji Coba, Bank Sampah di Cilincing Sulap Plastik Jadi Minyak
Ada berbagai jenis sampah yang bisa 'ditabung' di bank ini, mulai dari plastik kemasan minuman, botol beling, kardus, hingga tembaga dan berbagai jenis besi tua. Nasabah perorangan bisa mencairkan tabungannya tiap 3 bulan, sedangkan nasabah kelompok hanya bisa mencairkannya setahun sekali.
Sampah yang terkumpul dipilah-pilah. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, lalu dimanfaatkan untuk urban farming. Selain mengelola sampah, Bank Sampah Handayani juga menggalakkan 'urban farming' yakni penanaman sayur-mayur di lahan terbatas.
Sementara itu, sampah plastik dimanfaatkan untuk membuat kerajinan. Plastik-plastik bekas tersebut dibersihkan, dikeringkan, lalu dipotong-potong sesuai kebutuhan. Di tangan ibu-ibu dampingan Bank Sampah Handayani, plastik-plastik tersebut menjadi pernak-pernik lucu seperti dompet dan tas dari sampah.
Baca juga: Sisi Lain Sampah Jakarta, Ditabung di 'Bank' Agar Tak Bikin Banjir
(up/vit)











































