"Patut diingat bahwa kecemasan adalah gejala, bukan kondisi. Obat anti-kecemasan meringankan dysphoria secara sementara. Dysphoria merupakan rasa gelisah akut atau ketidakpuasan yang berkaitan dengan kecemasan yang dialami," tutur John Swartzberg, M.D, FACP dari University of California, Berkeley School of Public Health.
Dengan begitu, pasien sering berpikir bahwa obat-obatan bisa mengatasi kecemasan tersebut. Padahal, obat itu menurut Swartzberg tidak mengatasi masalah kecemasan yang dialami sampai ke akarnya. Jika seseorang dengan teratur mengonsumsi obat anti-kecemasan, Swartzberg menyarankan berkonsultasilah dengan dokter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Panik Normal atau Akibat Gangguan Kecemasan, Apa Bedanya?
"Kami di UC Barkeley menemukan bahwa kurang tidur bisa meningkatkan rasa cemas yang dialami seseorang. Selain itu, banyak penelitian yang menemukan bahwa olahraga bisa mengurangi gejala depresi dan cemas berlebih," kata Swartberg seperti dikutip dari Huffington Post, Senin (21/12/2015).
Tidak perlu olahraga berat yang sampai membuat Anda mengeluarkan keringat. Menurut Swartzberg, sekadar jalan kaki di alam sekitar saja sudah bisa mengurangi kemungkinan seseorang mengalami ruminasi, yakni kecenderungan untuk masuk ke pola pikir negatif dan setelah itu Anda sulit untuk bisa keluar dari pemikiran tersebut.
Selain cukup tidur dan olahraga, Anda juga bisa melakukan hal-hal yang disenangi sehingga tidak lagi merasa cemas, demikian dikatakan Swartzberg. Baik itu membaca buku, mendengarkan musik favorit, atau pergi ke tempat tertentu, selama itu bisa membuat Anda rileks dan senang, maka lakukanlah.
"Tambahkan kesenangan dalam hidup Anda sehingga stres dan cemas yang Anda alami bisa berkurang, bahkan dalam waktu bersamaan," pungkas Swartzberg.
Baca juga: Awas, Hal-hal Ini dapat Menyebabkan Gangguan Kecemasan (rdn/vit)











































