Meski Tak Sakit Parah, Penduduk di Tempat Ini 'Hobi' Diinfus

Meski Tak Sakit Parah, Penduduk di Tempat Ini 'Hobi' Diinfus

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Selasa, 22 Des 2015 07:35 WIB
Meski Tak Sakit Parah, Penduduk di Tempat Ini Hobi Diinfus
Foto: Thinkstock
Pnom Penh - Penggunaan selang infus dibutuhkan ketika seseorang kekurangan cairan, tidak bisa mengasup makanan padat, atau memang ada obat yang perlu diinjeksi misalnya. Tapi, bagi penduduk beberapa pedesaan di Kamboja, setiap mereka sakit, maka mereka harus diinfus. Meskipun, sebenarnya memasukan cairan intravena ke tubuh mereka tidak diperlukan.

"Ini tidak hanya terjadi di desa. Semua orang yang pergi ke RS akan minta diinfus dan mereka pikir itu penting. Bahkan, ketika ke RS, akan cukup banyak pasien yang diinfus meski mereka sebenarnya tidak memerlukan itu, sampai mereka keluar dari RS," kata salah satu dokter yang tak disebutkan namanya kepada BBC beberapa waktu lalu.

Wartawan BBC, John Murphy bahkan melaporkan peristiwa yang ia lihat di mana sambil berkendara menggunakan motor, penduduk tetap menggunakan selang infus di lengannya. Pernah suatu ketika Murphy menemui tiga orang yang berboncengan motor. Si pria, yang mengendarai motor memakai selang infus di lengan kanannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Si pria mengaku ia didiagnosis malaria oleh dokter pribadinya disertai masalah di usus serta hatinya. Kepada Murphy, pria itu juga mengaku merasa lemah tapi cairan infus bisa membuat tubuhnya lebih berenergi, demikian dikutip dari Oddity Central, Selasa (22/12/015).

Beberapa bulan lalu, Khmer Times menuliskan bahwa sudah menjadi pemandangan umum di Pnom Penh ketika anak-anak berkeliaran di jalan dengan jarum di tangannya, diikuti dengan orang tua mereka yang memegang kantong cairan infus. Umumnya, 'praktik' seperti itu lebih banyak terjadi di daerah pedesaan karena penduduk di kota sudah mulai meninggalkan kebiasaan tersebut.

Baca juga: Suntikkan Feses ke Infus Suaminya Pasca Operasi, Perawat Ini Diinvestigasi

"Penyebab mengapa mereka sangat terobsesi dengan jarum dan cairan infus tidak jelas. Di desa, dokter yang tidak memiliki izin praktik bisa dengan mudah memberikan infus tersebut. Hal ini berkaitan dengan persepsi masyarakat di mana ketika dokter menolak memberi pasien pengobatan intravena, si dokter akan dicap tidak memenuhi syarat dan pasien enggan kembali ke dokter tersebut," kata pakar kesehatan masyarakat setempat, dr Lao Chantha.

Menurutnya, tidak mudah mengubah persepsi dan kepercayaan masyarakat. Bahkan, direktur di pusat kesehatan Tuol Ampil di provinsi Kompong Speu, Von Tu sering menemui ibu yang meminta anaknya diberi cairan intravena meskipun demamnya tidak terlalu tinggi. Ketika dokter menolak melakukannya, si ibu langsung pergi ke tenaga kesehatan lain yang bersedia memberinya cairan intravena.

Praktik penggunaan cairan intravena ini bukan tidak memiliki dampak. Sebab, pemakaian jarum infus secara bergantian membuat hampir 300 orang di desa Roka terkena HIV dan sekitar sepuluh orang meninggal karena AIDS beberapa tahun lalu. Prevalensi HIV juga meningkattapi dengan bantuan pihak luar serta LSM setempat, angka kejadian HIV bisa ditekan.

Pemerintah Kamboja juga lebih tegas dalam menyatakan larangan bagi tenaga kesehatan yang tidak memiliki izin untuk praktik. Namun, dipercaya bahwa tantangan sebenarnya adalah bagaiamana bisa mengubah pola pikir masyarakat yang masih percaya bahwa cairan intravena bisa menyembuhkan segala penyakit mereka, meskipun mereka tahu cairan yang disuntikkan hanya berupa air atau cairan saline saja.

Baca juga: Alergi Pada Semua yang Dimakan, Bocah Ini Hanya Makan dari Infus (rdn/vit)

Berita Terkait