Januari: Riset Kemenkes Ungkap Bahaya Minum Soda Berlebihan Bagi Ginjal

Kaleidoskop 2015

Januari: Riset Kemenkes Ungkap Bahaya Minum Soda Berlebihan Bagi Ginjal

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Selasa, 22 Des 2015 15:00 WIB
Januari: Riset Kemenkes Ungkap Bahaya Minum Soda Berlebihan Bagi Ginjal
Foto: Thinkstock
Jakarta - Pada awal tahun 2015, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengungkapkan risiko lain dari konsumsi minuman soda secara berlebihan. Hal ini terutama pada ginjal.

Kepala Balitbangkes saat itu, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama mengatakan, minuman berkarbonasi dikonsumsi oleh 1,1 persen penduduk Indonesia. Konsumsi minuman tersebut mencapai 2,4 gram/orang/hari, lebih tinggi dibandingkan konsumsi alkohol yakni 1,9 gram/orang/hari, dan teh yakni 1,6 gram/orang/hari.

Hasil awal studi Kasus Kontrol Penyakit Ginjal Kronis Badan Litbangkes Tahun 2014 tersebut juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman berkarbonasi lebih dari sekali tiap hari selama beberapa tahun bisa meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi hasil riset ini, Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) pun membantah tudingan bahwa minuman bersoda adalah pemicu gagal ginjal. Dalam rilisnya, ASRIM menyebutkan bahwa penyakit ginjal kronis disebabkan oleh berbagai faktor risiko. Di antaranya diabetes, tekanan darah tinggi, dan sejarah medis keluarga yang mengidap gagal ginjal.

Baca juga: Meski Manis, Minuman Semacam ini Belum Tentu Manis bagi Jantung
https://health.detik.com/read/2015/11/05/093209/3062594/763/meski-manis-minuman-semacam-ini-belum-tentu-manis-bagi-jantung

Konsultan ginjal dan hipertensi dari RS Cipto Mangunkusumo pun meluruskan bahwa memang bukan soda yang mengganggu fungsi ginjal. "Sebenarnya bukan soda yang merusak ginjal, tapi fruktosanya. Fruktosa ini meningkatkan asam urat yang akan mengendap di ginjal," kata Prof Dr Parlindungan Siregar, SpPD-KGH kepada detikHealth.

Sementara itu dikutip dari detikFinance, Direktorat Jenderal Bea Cukai mengusulkan pengenaan cukai baru untuk beberapa produk baru di 2015. Termasuk di antaranya adalah cukai untuk Minuman Ringan Berkarbonasi dan Berpemanis (MRKP), pulsa, dan telepon seluler.

Isu ini lantas menimbulkan berbagai respons dari para dokter. Pakar gizi dari Siloam Hospital, dr Inge Permadhi, SpGK menyatakan kesetujuannya bahwa dari segi kesehatan, minuman bersoda memang memiliki lebih banyak efek negatif daripada efek positif. Beberapa risiko yang mungkin muncul di antaranya obesitas dan diabetes melitus tipe 2.

Dihubungi secara terpisah, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa jika memang wacana soal pemberian cukai bagi minuman ringan digulirkan, hendaknya pemerintah melakukan penelitian lebih lanjut. Sebabnya, kategori minuman berkarbonasi ada beberapa macam.

"Ada memang seperti soda dan cola yang dijual untuk mencari segarnya. Ada juga carbonated water, itu air putih yang dikarbonasi, nggak ada kalori. Jadinya kalau soal obesitas masih perlu diperbincangkan ya, kalau dari segi kesehatannya," ungkapnya.

Dibandingkan memberikan cukai, dr Ari lebih condong untuk memaksimalkan nutrition facts atau label peringatan nutrisi yang ada di kemasan minuman berkarbonasi. Di label itu terdapat jumlah kalori yang terkandung dalam kemasan minuman tersebut. Ia meminta masyarakat untuk lebih cermat sebelum mengonsumsi minuman berkarbonasi atau bersoda. Jika dirasa hari ini sudah terlalu banyak makan, maka tidak perlu lagi minum minuman bersoda.

Minum soda boleh-boleh saja, tapi jangan sampai berlebihan. Ini berlaku untuk makanan dan minuman lainnya, karena segala sesuatu yang berlebihan tidak baik bagi kesehatan. Selain itu ada baiknya juga mengedepankan gaya hidup aktif.

Baca juga: Hii! Iklan Seram Ini Dibuat untuk Batasi Konsumsi Minuman Berpemanis Buatan


(ajg/vit)

Berita Terkait