ADVERTISEMENT

Kamis, 07 Jan 2016 18:48 WIB

Tak Sembarangan, Begini Prosedur Chiropractic yang Benar

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Meski chiropractic di Indonesia belum resmi diakui sebagai cabang dalam dunia medis, praktiknya tak sembarangan bahkan perlu seorang dokter yang sudah berpengalaman mengikuti sekolah khusus.

Dijelaskan oleh dr Magieline Rosalina dari Citylife Chiropractic sebelum pasien bisa mengikuti terapi ada ragam pemeriksaan yang harus dijalani. Pemeriksaan x-ray, thermal scan, dan wawancara riwayat medis perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pasien memang cocok diterapi.

"Kita banyak periksa secara fisik. Ada thermal scan, terus pergerakan orang itu seperti apa, pemeriksaan saraf alur mana nih yang salah. Dari situ kita tentukan apakah tepat di chiro atau harus dikirim ke bidang lain misal ke dokter saraf," kata dr Magie kepada detikHealth ketika ditemui di tempat praktiknya di daerah Gading, Jakarta Utara, Kamis (7/1/2016).

Baca juga: Perchrindo: Chiropractic Masuk Kategori Battra, Izinnya dari Dinkes

Dari pemeriksaan bisa diketahui juga beberapa kondisi yang memang tak bisa dilakukan prosedur chiropractic. Dijelaskan oleh dr Magie beberapa kondisi tersebut antara lain patah tulang (fraktur) atau ada bila indikasi kanker.

Bila seorang praktisi tak mengindahkan kontraindikasi yang ada maka bisa dibilang ia telah melakukan malpraktik. Risiko dari chiropractic yang salah menurut dr Magie biasanya adalah terjadinya fraktur.

"Tindakan chiro bisa tulang patah kalau agresif menekannya kan. Kalau misal sampai meninggal tidak sih karena tubuh manusia kan enggak selemah itu," kata dr Magie.

dr Magie mengatakan sebetulnya bila chiropractic dijalankan sesuai standar dan dengan teknik yang tepat pasien yang merupakan ibu hamil, bayi, dan bahkan osteoporosis sekalipun bisa diterapi. (fds/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Breaking News
×
Pelimpahan Tahap II Kasus Ferdy Sambo
Pelimpahan Tahap II Kasus Ferdy Sambo Selengkapnya