ADVERTISEMENT

Sabtu, 09 Jan 2016 13:08 WIB

Setelah Baca Penjelasan Dokter Ini, Yakin Masih Mau Gemeretakkan Leher?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Menggemeretakkan leher sudah jadi hal yang sangat lumrah. Bunyi 'krek' di leher seolah menghilangkan pegal. Tapi kegiatan ini benarkah benar-benar aman dan jauh dari risiko berbahaya? Yuk simak penjelasan pakarnya.

Dokter spesialis bedah saraf TNI AU Dr dr Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP menuturkan beberapa orang mengaku ketagihan lehernya digemeretakkan tukang cukur sampai berbunyi krek. Alasannya leher jadi enak dan ringan setelah bunyi krek terdengar.

Tapi perlu diketahui bahwa leher manusia merupakan bagian tubuh dengan struktur anatomi yang cukup kompleks, banyak ragamnya, sempit daerahnya, dan vital fungsinya. Di leher manusia terdapat kelenjar tiroid yang menyimpan hormon tiroid dan sangat penting fungsinya dalam metabolisme tubuh.

"Masih ada lagi esofagus yang menjadi saluran masuk makanan ke lambung. Ada lagi trakea yang merupakan saluran masuk udara untuk pernapasan dari mulut dan hidung ke bronkus lalu masuk ke dalam paru-paru," jelas dr Wawan dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan.

Tak hanya itu, di area leher terdapat pembuluh darah utama ke otak (arteri karotis kiri dan kanan) dan dari otak (vena jugularis kiri dan kanan). Selain itu, makin ke belakang terdapat struktur tulang belakang bagian leher yang di dalamnya terdapat sumsum tulang belakang dan pembuluh darah ke otak bagian belakang (arteri vertebralis kiri dan kanan).

Baca juga: dr Randall sang Chiropractor Kabur, Ini Curhatan Ibu Pasien



"Semua organ-organ itu punya fungsi yang demikian penting, dan tak salah kalau ada yang menyebut leher adalah 'jembatan kehidupan' antara kepala dan tubuh kita bagian bawahnya," imbuh dr Wawan.

dr Wawan mengingatkan hukuman mati yang dilakukan dengan cara gantung dan penggal leher. Kenapa harus menjadikan leher sebagai target? Itu karena leher ditengarai sebagai area tercepat di tubuh manusia untuk mematikan seorang terpidana mati. Pun saat menyembelih hewan, yang dipotong adalah lehernya.

Nah, bunyi krek pada leher yang digemeretakkan menunjukkan adanya manipulasi pergerakan sendi secara berlebihan. Mungkin pada beberapa kasus menggemeretakkan leher tidak serta-merta berujung pada dislokasi atau patah tulang leher. Namun menurut dr Wawan, jika leher makin sering dimanipulasi maka sendi leher bisa makin lemah.

"Ini dapat menyebabkan instabilitas tulang leher di kemudian hari yang bisa menyebabkan nyeri leher kronis yang sering timbul ketika usia makin menua," sambung dr Wawan.

Akibat manipulasi pergerakan sendi sekitar leher yang berlebihan bisa menjadikan tulang leher patah, retak, atau dislokasi. Kasus terseringnya adalah dislokasi atau melejitnya sendi yang menghubungkan antar tulang leher. Untuk diketahui ada 7 ruas tulang leher dan masing-masing ruas dihubungkan oleh 2 macam sendi.

Baca juga: Perhimpunan Ahli Bedah Ortopedi Tegaskan Chiropractic Beda dengan Fisioterapi

"Jika tulang dan sendinya melejit, maka hubungan persendian leher dan ruas tulang lehernya menjadi tidak stabil dan akan mencederai sumsum tulang belakang di dalamnya, dan selanjutnya terjadilah kejadian fatal," papar dr Wawan.

Jika tulang leher sampai patah maka bisa menyebabkan kematian yang lebih cepat. "Apalagi jika diitambah lagi robeknya pembuluh darah arteri vertebralis akibat tergores tulang leher yang patah itu," sambungnya.

(vit/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT