"Kalau sampai terjadi perdarahan itu biasanya tumornya sudah membesar. Sudah parah, untuk membedakannya, bisa dengan colok dubur," kata Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FINACIM, FACP usai upacara pengukuhannya sebagai guru besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) di Balai Sidang UI, Depok, Jawa Barat, Sabtu (16/1/2016).
Baca juga: Mau Pangkas Risiko Kanker? Yuk Rutin Medical Check Up dan Setop Merokok
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof Aru menyebut selama beberapa dekade, kanker kolon dan rektum (kolorektal/KKR) telah meningkat dalam daftar urut 10 kanker tersering dari nomor 10 di tahun 1993 menjadi nomor 3 di tahun 2012. Dikatakan Prof Aru, peningkatan KKR berkaitan dengan perubahan gaya hidup terutama kebiasaan makan dan merokok.
"Sebagian besar bersifat sporadik (tidak menentu-red) dan hanya sebagian kecil yang bersifat herediter (diturunkan dari orang tua-red). Artinya kanker ini mengikuti perubahan zaman dan fakta ini menunjukkan kanker kolorektal bisa dicegah," kata Prof Aru.
Baca juga: Jika Meluas dan Jumlahnya Banyak, Kondiloma Harus Diatasi dengan Operasi (rdn/vit)











































