Kamis, 21 Jan 2016 11:03 WIB

Jangan Pernah Mencoba Sabu dan Ekstasi

dr Andri,SpKJ,FAPM - detikHealth
Foto: dok. pribadi
Jakarta - Saya ingat, saat saya masih menjadi peserta program pendidikan dokter spesialis kedokteran jiwa di FKUI, masalah penggunaan heroin (atau putaw/PT) masih ada walaupun mungkin tidak sebanyak 10 tahun sebelumnya. Saat itu awal tahun 2000, orang mulai banyak mengenal sabu dan ekstasi sebagai narkoba jenis stimulan yang katanya kalau dipakai sekali-kali saja tidak bikin ketergantungan dan sakaw (reaksi putus zat/withdrawal) seganas heroin.

Sabu dan ekstasi adalah narkoba jenis stimulan yang mengandung zat dasar amphetamine. Dalam situs National Institute on Drug Abuse, metamphetamine (sering disebut juga meth) yang terkandung dalam sabu merupakan zat stimulan yang sangat adiktif dan sangat berpotensi disalahgunakan. Meth bekerja untuk menimbulkan rasa senang yang luar biasa (euforia) yang didapatkan dari peningkatan berlebihan neurotransmitter (zat kimia penghubung di otak) dopamine di otak akibat rangsangan meth di sana.

Selain itu juga pemakaian sabu akan menimbulkan motivasi, semangat, peningkatan aktivitas motorik, peningkatan rasa senang yang berlebihan beberapa orang mengatakan meningkatkan kenikmatan berhubungan seks. Penggunaan rutin meth akan menimbulkan ketergantungan yang sulit dilepaskan.

Berbeda dengan sabu, ekstasi adalah sejenis ampfetamine yang disebut dalam bahasa kimianya sebagai MDMA (3,4-metilenedioksi-metamfetamina). Ekstasi tidak seperti sabu yang lebih memengaruhi neurotransmitter dopamine, ekstasi lebih mempengaruhi serotonin walaupun juga memengaruhi sedikit dopamine dan norephinephrine. Peningkatan serotonin yang berlebihan akibat pemakaian ekstasi diharapkan pemakainya untuk meningkatkan mood atau suasana perasaan secara cepat.

Serotonin sendiri memang merupakan zat kimia di otak yang sering dihubungkan dengan pengaturan suasana perasaan, tidur dan nafsu makan. Penggunaan rutin ekstasi akan menimbulkan terjadinya ketidaseimbangan serotonin di otak yang bisa memicu terjadinya depresi, kemunduran daya ingat, gangguan cemas dan kesulitan konsentrasi.

Reaksi mengancam jiwa yang bisa didapat ketika memakai ekstasi adalah suhu tubuh yang meningkat tinggi di luar normal (hipertermia), irama jantung yang tidak teratur (aritmia), gagal ginjal dan beberapa kasus menimbulkan perdarahan di otak.

Bagaimana Jika Pakai Sekali-kali?

Banyak orang salah paham tentang pemakaian sabu dan ekstasi, di mana dikatakan jika orang menggunakannya sekali-kali saja tidak akan mengalami masalah. Hal ini tentunya tidak tepat. Stimulasi susunan saraf pusat walaupun sekali-sekali akan menimbulkan efek yang bisa dialami bukan hanya saat memakai narkoba stimulan tetapi juga bisa lama sesudah pemakain zat ini.

Dalam praktik, sering saya menemukan pasien dengan gangguan cemas dan gangguan depresi diketahui bahwa terdapat riwayat pemakaian sabu atau ekstasiĀ  di masa lalu. Beberapa pasien mengatakan bahwa rasa depresi yang dialami sama atau mirip dengan saat dia mengalami reaksi setelah memakai ekstasi atau sabu.

Pasien yang mengalami gangguan cemas dan depresi serta mempunyai riwayat penggunaan ekstasi dan sabu di masa lalu, biasanya sering lama memperoleh perbaikan untuk gejala depresi dan cemasnya dibandingkan pasien yang tidak pernah menggunakan zat narkoba stimulan tersebut.

Potensi bahaya bagi tubuh kita semakin bertambah dengan adanya tambahan zat lain di ekstasi atau sabu yang ditambahkan secara sengaja oleh si pembuat untuk menambah efek sabu atau ekstasi. Sering kali zat yang digunakan sebenarnya adalah zat kimia berbahaya bagi tubuh yang diolah oleh si pembuat sabu di lab-lab pembuatan sabu.

Pesan saya adalah jangan bermain-main dengan otak kita. Memberikan tambahan zat di sistem susunan saraf pusat kita secara sengaja untuk memanipulasinya akan menimbulkan masalah di otak. Biarkan otak kita bekerja secara wajar.

Jika menginginkan kesenangan maka saran yang sehat adalah dengan berolahraga, meditasi, tertawa, berhubungan seks dengan pasangan sah dan makan cabai. Aktivitas ini bisa meningkatkan endorfin (endo morfine, alias morfin internal yang dihasilkan tubuh sendiri) yang bisa membuat kita bahagia. Jangan cari kebahagian semu lewat narkoba.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam sehat jiwa.

*) dr Andri,SpKJ,FAPM adalah psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera. Twitter: @mbahndi

(vit/vit)