dr Sanjay Gupta dari CNN menjelaskan bahwa hampir dua pertiga masyarakat dunia pernah mengalami deja vu. Artinya, mereka merasa pernah melihat, melakukan, atau mendengar sesuatu yang tidak mungkin pernah dilakukan sebelumnya.
"Orang zaman dahulu mengaitkan deja vu dengan kehidupan sebelumnya, diculik alien atau keajaiban lain. Namun ilmu pengetahuan membuktikan deja vu ternyata berkaitan erat dengan otak kita," tutur Gupta, dikutip dari CNN, Kamis (21/1/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa sebenarnya deja vu? Anne Cleary, peneliti deja vu sekaligus pakar psikologi kognitif dari Cleary Memory Lab mengatakan deja vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti pernah melihat. Dalam kaitannya dengan otak, ia memiliki dua penjelasan.
Pertama, deja vu adalah ingatan jangka pendek yang masuk ke dalam ingatan jangka panjang terlalu cepat. Dengan kata lain, rasa 'pernah melihat atau bertemu' dengan seseorang muncul dari ingatan beberapa detik yang lalu, ketika Anda pertama kali bertemu orang tersebut.
"Hanya dalam sepersekian detik, otak menyimpan memori tentang wajah yang baru Anda lihat ke dalam memori jangka panjang, dan memunculkannya kembali sebagai ingatan. Ini yang membuat Anda merasa pernah melihat atau bertemu orang lain, padahal Anda baru pertama kali bertemu dengannya," tutur Cleary.
Teori kedua, deja vu merupakan sensasi pengalaman yang didapat dari sumber luar, namun tersimpan sebagai memori. Sering menonton film atau sering bepergian membuat Anda memiliki lebih banyak ingatan, yang membuat kesan 'pernah melihat atau berada di suatu tempat' akan semakin kuat.
"Karena sering bepergian ke desa atau tempat terpencil, maka ketika Anda pergi ke tempat lain dengan pemandangan, perasaan dan suasana yang sama, Anda merasa pernah datang ke tempat itu. Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang suka menonton film," ungkapnya.
Baca juga: Studi Temukan Diet Bisa Tingkatkan Performa Otak
(mrs/up)











































