Gina Sam, MD, direktur Gastrointestinal Motility Center di Mount Sinai Hospital, New York mengatakan seiring bertambahnya usia, seseorang cenderung lebih rentan terhadap sembelit dan diare. Sebagian sebabnya dikatakan Sam karena kurang berolahraga, kurang mendapat asupan serat, mengonsumsi lebih sedikit makanan, dan mengonsumsi obat tertentu.
"Misalnya saja beberapa jenis obat untuk tekanan darah tinggi, suplemen zat besi, dan beberapa antidepresan bisa menyebabkan sembelit. Namun, perlu diingat juga seiring bertambahnya umur, otot di perut dan usus pun melemah," tutur Sam, dikutip dari Women's Health, Selasa (26/1/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, agar aktivitas BAB tidak mengalami perubahan, Sam menyarankan untuk memastikan Anda mengonsumsi air yang cukup, rutin berolahraga, dan mengasup setidaknya 25 sampai 50 gram serat per hari. Lantas, bagaimana frekuensi BAB yang dikatakan normal?
"BAB yang normal tergantung pada masing-masing orang. Ada orang yang BAB dua hari sekali dan yang lainnya setiap hari. Normal atau tidaknya BAB bisa dilihat dari konsistensinya," kata Richard Benya, MD, gastroenterologist dan Direktur Loyola University Health System.
Namun, Benya mengingatkan agar Anda tetap melakukan skrining dengan rutin. Setelah menginjak usia 50 tahun misalnya, lakukan skrining kanker kolorektal. Jika memiliki riwayat keluarga dengan kanker atau faktor risiko seperti penyakit Crohn, lakukan skrining sebelum usia 50 tahun.
"Kanker usus besar merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua dan penyakit ini bisa dicegah jika dideteksi sedini mungkin sehingga skrining amat penting untuk dilakukan," pungkas Benya.
Baca juga: Perdarahan karena Wasir dan Gejaka Kanker Kolon, Bagaimana Bedanya? (rdn/vit)











































