Rabu, 27 Jan 2016 08:05 WIB

Sering Jatuh, Elisabeth Tak Sadar Dirinya Kena Multiple Sclerosis

Firdaus Anwar - detikHealth
Elisabeth Sianturi (Foto: Firdaus Anwar)
Jakarta - Penyandang penyakit autoimun multiple sclerosis (MS) seiring berjalannya waktu perlahan-lahan akan mengalami berbagai kelumpuhan di tubuhnya. Hal ini dikarenakan ulah sistem imun tubuh yang tanpa sebab jelas berubah ganas menyerang saraf.

Tapi meski gejala terdengar parah, jarang ada dokter bahkan yang spesialis ahli sekalipun untuk bisa cepat mengenali gejala MS pada pasien. Hal ini karena gejala awal MS cukup ringan seperti terganggunya keseimbangan, kesemutan, dan rasa lemas yang hilang muncul.

Seperti yang dialami oleh Elisabeth Sianturi (57) dari Yayasan Multiple Sclerosis Indonesia (YMSI). Dirinya bercerita bahwa ia sebetulnya sudah menunjukkan gejala untuk MS sejak kecil namun tak teridentifikasi sampai menginjak usia 50-an.

Sepanjang hidupnya beberapa kali Elisabeth pernah mengalami kejadian tiba-tiba jatuh namun tak pernah dianggapnya serius. Alasannya pertama karena setelah itu ia tak merasa apa-apa dan tiap kejadian berselang beberapa tahun sehingga tak ada kecurigaan bahwa itu berkaitan.

Baca juga: Begini Cara Penyakit Multiple Sclerosis Merusak Tubuh

"Pernah waktu sekolah tiba-tiba jatuh terus bisa berdiri lagi jalan biasa, terus waktu kuliah jatuh lagi teman-teman pada ketawa, lanjut saya dewasa jatuh lagi pas di mall sampai kaka nanya saya kenapa. Terakhir sama teman kantor saya ke Bali pas main pasir jatuh lagi, nah pas berdiri tiba-tiba pincang. Saya berpikir wah ini kena stroke nih," kenang Elisabeth ketika berbagi kisahnya kepada media, Selasa (26/1/2016) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Namun ketika diperiksa di rumah sakit, tak ada indikasi stroke terlihat yang mungkin menyebabkan kelumpuhan. Dokter memberikan banyak kemungkinan dan obat untuk Elisabeth yang diakuinya membuat stres.

Tak hanya satu rumah sakit didatangi oleh Elisabeth. Dirinya mengaku mungkin sudah belasan kali menjalani MRI dan setelah mengonsumsi beragam obat lambungnya pun tak tahan.

"Akhirnya suami saya menyarankan kita ke luar negeri. Awalnya niatan kita bukan untuk MS tapi karena khawatir lambung saya hancur-hancuran karena obat," ujar Elisabeth yang mengaku saat di luar negeri itu lah MS-nya terdiagnosa.

Dirinya diberi obat yang bisa memperlambat perjalanan penyakit dan untuk kelumpuhannya dokter menganjurkan fisioterapi.

"Lucunya lagi waktu difisioterapi padahal saya cuma harus belajar jalan lurus saja tapi enggak pernah bisa. Sampai dikasih obat terus disuruh jalan lurus lagi tetap enggak bisa. Disuruh nunjuk ke hidung, jari saya malah kemana-mana," kata Elisabeth.

Saat berbincang dengan media Elisabeth kondisinya tampak sudah lebih baik meski masih tak bisa lancar berdiri dan jalan. Dirinya masih bisa bekerja sebagai pegawai swasta meski tak aktif seperti dulu.

"Kadang-kadang saya sedih sekali kenapa jadi seperti ini. Buat teman-teman lain yang merasakan seperti itu, tolong jangan disepelekan. Mungkin kalau saya kemarin enggak ke luar (negeri -red) saya masih enggak tahu apa-apa," tutup Elisabeth menyarankan agar masyarakat lebih paham MS.

Baca jugaMultiple Sclerosis, Penyakit 'Seribu Wajah' yang Bikin Dokter Garuk Kepala (fds/vit)