Rumitnya Persoalan Air Bersih di Tengah Hiruk Pikuknya Ibukota

Rumitnya Persoalan Air Bersih di Tengah Hiruk Pikuknya Ibukota

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Selasa, 02 Feb 2016 16:32 WIB
Rumitnya Persoalan Air Bersih di Tengah Hiruk Pikuknya Ibukota
Foto: uyung
Jakarta - Akses air bersih sering menjadi masalah di lingkungan padat penduduk, termasuk di beberapa sudut Kota Jakarta. Berbagai terobosan dilakukan untuk mengatasi rumitnya masalah yang dihadapi.

"Di sini, sumur paling dalam 5 meter. Lebih dari itu, airnya asin rembes dari laut," kata Rojak, warga Rawa Sengon RW 002, Tanah Merah, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Selasa (2/2/2016).

Air sumur di daerahnya, menurut Rojak tidak layak dikonsumsi. Sehari-hari, warga menggunakan air sumur hanya untuk mencuci. Bahkan pada musim kemarau, air sumur tidak keluar. Kadang-kadang, airnya berwarna kekuningan. Kata Rojak, sabun cuci pun sampai tidak berbuih saking kotornya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua RW 002 Rawa Sengon, Khairudin mengatakan 250 rumah di wilayahnya saat ini memanfaatkan akses air bersih dari Master Meter System bantuan dari USAID. Tarifnya sekitar Rp 14 ribu/m3, hampir 2 kali lipat dari tarif PAM Jaya yakni Rp 7.450/m3.

"Yang lain masih beli air bersih dari gerobak. Harganya 1 pikul Rp 5 ribu," jelas Khairudin.



Baca juga: Robohnya Crane dan Kebiasaan Buang Air di Ciliwung 

Satu pikul air bersih dari gerobak, yang berasal dari hidran, terdiri dari 2 jeriken. Masing-masing jeriken berisi 25 liter. Dalam sehari rata-rata 1 rumah yang terdiri dari 4 anggota keluarga menghabiskan 4 pikul atau rata-rata Rp 300.000 per bulan.

Untuk mengakses layanan PAM Jaya, warga RW 022 Tanah Merah umumnya terkendala masalah administrasi. Salah seorang fasilitator Master Meter System DKI Jakarta, Catur Handoko menjelaskan daerah tersebut termasuk gray area sehingga tidak semua punya sertifikat tanah.

"Solusinya kita bikin satu meter induk atau master meter yang resmi, lalu dialirkan ke 250 rumah. Pengelolaannya diserahkan ke KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat)," jelas Catur.



Baca juga: Mengunjungi Pasar Paling Bersih di Yogyakarta  (up/vit)

Berita Terkait