"Di sini, sumur paling dalam 5 meter. Lebih dari itu, airnya asin rembes dari laut," kata Rojak, warga Rawa Sengon RW 002, Tanah Merah, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Selasa (2/2/2016).
Air sumur di daerahnya, menurut Rojak tidak layak dikonsumsi. Sehari-hari, warga menggunakan air sumur hanya untuk mencuci. Bahkan pada musim kemarau, air sumur tidak keluar. Kadang-kadang, airnya berwarna kekuningan. Kata Rojak, sabun cuci pun sampai tidak berbuih saking kotornya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang lain masih beli air bersih dari gerobak. Harganya 1 pikul Rp 5 ribu," jelas Khairudin.
![]() |
Baca juga: Robohnya Crane dan Kebiasaan Buang Air di Ciliwung
Satu pikul air bersih dari gerobak, yang berasal dari hidran, terdiri dari 2 jeriken. Masing-masing jeriken berisi 25 liter. Dalam sehari rata-rata 1 rumah yang terdiri dari 4 anggota keluarga menghabiskan 4 pikul atau rata-rata Rp 300.000 per bulan.
Untuk mengakses layanan PAM Jaya, warga RW 022 Tanah Merah umumnya terkendala masalah administrasi. Salah seorang fasilitator Master Meter System DKI Jakarta, Catur Handoko menjelaskan daerah tersebut termasuk gray area sehingga tidak semua punya sertifikat tanah.
"Solusinya kita bikin satu meter induk atau master meter yang resmi, lalu dialirkan ke 250 rumah. Pengelolaannya diserahkan ke KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat)," jelas Catur.
![]() |
Baca juga: Mengunjungi Pasar Paling Bersih di Yogyakarta (up/vit)













































