Studi: Marah Benar-benar Bisa Mengubah Struktur Otak

Studi: Marah Benar-benar Bisa Mengubah Struktur Otak

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Selasa, 09 Feb 2016 09:35 WIB
Studi: Marah Benar-benar Bisa Mengubah Struktur Otak
Foto: thinkstock
Jakarta - Sebuah penelitian menemukan dampak yang terjadi saat seseorang marah-marah. Menurut para peneliti, marah bisa megubah otak. Sebab marah bisa memicu munculnya sel-sel saraf baru yang akan menyebabkan seseorang lebih sering marah di masa depan.

Dikutip dari Daily Mail, Selasa (9/2/2016), sebuah penelitian dilakukan pada tikus-tikus yang menjadi agresif setelah berkelahi. Para peneliti mempelajari bagaimana perubahan pada otak tikus-tikus tersebut.

Pada studi baru ini, para peneliti juga membandingkan hippocampus dan amigdala (daerah otak yang bertanggung jawab untuk takut, agresif, dan kecemasan) untuk melacak pengaruh agresif dengan dua struktur kunci sekaligus. Hasilnya, tikus yang agresif dan aktif secara sosial akan lebih mungkin menghasilkan saraf baru di hippocampus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Demi Rp 1,4 Miliar, Ilmuwan Berlomba-lomba Temukan Cara Mengawetkan Otak

Dalam penelitian tersebut terlihat produksi sel-sel saraf di hippocampus para tikus jantan. Aktivitas dalam sel-sel saraf baru terlihat setelah perilaku agresif para tikus. Ternyata keberadaan sel-sel saraf baru itu membuat tikus lebih sering marah. Sehingga dengan lebih sering marah maka akan membuat tikus tersebut menjadi terus-menerus marah.

Percobaan baru tersebut juga mengungkapkan bahwa dengan berulang-ulang kali berkelahi, tingkat  c-fos, salah satu metode standar aktif mencari perubahan sel-sel saraf, akan meningkat dalam hippocampus dan menurun di amigdala. Kendati hal ini bisa menyebabkan kebingungan para peneliti, namun itu adalah salah satu temuan menarik, karena pada manusia amigdala terlibat dalam sejumlah proses patologis, termasuk keterkaitan dengan autisme.

Para peneliti mengamati peningkatan kecemasan dan gangguan kemampuan untuk berkomunikasi dengan tikus lain serta mencatatat gejala yang mirip dengan autisme pada manusia. Grigori Enikolopov, kepala MIPT's Laboratory of Brain Stem Cells menyatakan kekagumannya atas kemiripan kondisi pada organisme yang berbeda.

Baca juga: Ini Sebabnya Mengapa Hidung 'Meler' Setelah Anda Makan Makanan Pedas (vit/vit)

Berita Terkait