Jakarta -
Cara berjalan bisa mengungkap kondisi kesehatan seseorang. Misalnya kaki magnetik yang menunjukkan demensia, atau cara berjalan seperti penguin yang bisa jadi pertanda kerusakan saraf.
Pada kondisi sehat, cara berjalan lebih banyak ditentukan oleh selera dan kepribadian. Namun pada seseorang yang punya masalah kesehatan, cara berjalan ditentukan juga oleh sinyal-sinyal dari otak dan sistem saraf pusat.
Dirangkum dari Dailymail, Selasa (9/2/2016), berikut ini beberapa cara berjalan yang dikaitkan dengan gangguan kesehatan.
1. Kaki magnetik
Foto: thinkstock
|
"Ada cara berjalan yang dikenali sebagai tanda demensia, kita menyebutnya magnetic gait. Saat demensia memburuk, kaki Anda tampak menempel di lantai seperti ada magnetnya," kata Professor Tahir Masud, peneliti dari Nottingham University Hospital.Menurut Prof Masud, cara berjalan seperti ini disebabkan oleh gangguan sebagian besar fungsi otak pada pasien demensia. Gejala lainnya adalah langkah yang lebih pendek dan cara berjalan yang tidak stabil sehingga rentan jatuh.
2. Seperti penguin
Foto: thinkstock
|
"Cara berjalan dengan goyangan meyamping pada tubuh bagian atas bisa disebabkan oleh tekanan pada saraf di punggung bagian bawah, sering ditemukan pada penyakit punggung degeneratif," kata Prof Masud.Tekanan pada saraf tersebut, menurut Prof Masud mengurangi sinyal ke otot-otot di bagian pantat. Normalnya, saat berat badan tertumpu di kaki kiri maka otot pantat akan menyeimbangkan panggul agar badan tidak miring. Mekanisme ini tidak berjalan pada gangguan saraf yang dimaksud.
3. Kaki menyilang
Foto: thinkstock
|
Cara berjalan seperti gunting atau scissor gait, yakni menyilangkan kaki di setiap langkah bisa dikaitkan dengan multiple schlerosis. Penyebabnya adalah kerusakan saraf di otak dan tulang belakang. Bisa juga karena cedera sumsum tulang belakang akibat kecelakaan."Kerusakan pada sumsum tulang belakang bisa memicu perlemahan dan kekakuan otot di kaki. Beberapa kelompok otot menjadi kaku dan lemah. AKibatnya kaki menyilang saat berjalan," kata Prof Masud.
4. Limbung
Foto: Dikhy Sasra
|
"Meluncur dari satu sisi ke sisi lainnya seperti sedang mabuk bisa menandakan kerusakan cerebellum, yakni bagian otak yang mengontrol koordinasi," kata Prof Masud."Bisa mengindikasikan stroke, tumor otak, atau kerusakan akibat penyalahgunaan alkohol," lanjutnya.
5. Pincang
Foto: thinkstock
|
Pincang atau cara berjalan yang timpang menyebabkan distribusi berat badan tidak seimbang antara kaki kiri dan kanan. Kondisi ini bisa menandakan radang sendi atau arthritis, baik di pinggul, lutut, jempul maupun tungkai. Cedera pada persendian, seperti terkilir, juga bisa menyebabkan pincang saat berjalan.Seseorang dengan nyeri sendi kadang harus menghindari beban berlebih pada kaki yang sedang sakit.
6. Kaki diseret
Foto: thinkstock
|
"Ini adalah occupational hazzard bagi pekerja yang terus menerus mengalami tekanan di kaki, karena bisa merusak saraf peroneal di samping betis dan di bawah sendi lutut," kata Prof MAsud.Kondisi tersebut menurut Prof Masud bisa memicu dorsiflexion, yakni ketidakmampuan untuk mengangkat telapak kaki. Akibatnya, saat berjalan telapak kaki harus diseret. Atau, lutut harus dinaikkan tinggi-tinggi agar telapaknya tidak terseret.
"Pasien stroke kadang menyeret kaki pada sisi tertentu karena kerusakan di otak menyebabkan kakinya kaku," tambah Prof Masud.
"Ada cara berjalan yang dikenali sebagai tanda demensia, kita menyebutnya magnetic gait. Saat demensia memburuk, kaki Anda tampak menempel di lantai seperti ada magnetnya," kata Professor Tahir Masud, peneliti dari Nottingham University Hospital.
Menurut Prof Masud, cara berjalan seperti ini disebabkan oleh gangguan sebagian besar fungsi otak pada pasien demensia. Gejala lainnya adalah langkah yang lebih pendek dan cara berjalan yang tidak stabil sehingga rentan jatuh.
"Cara berjalan dengan goyangan meyamping pada tubuh bagian atas bisa disebabkan oleh tekanan pada saraf di punggung bagian bawah, sering ditemukan pada penyakit punggung degeneratif," kata Prof Masud.
Tekanan pada saraf tersebut, menurut Prof Masud mengurangi sinyal ke otot-otot di bagian pantat. Normalnya, saat berat badan tertumpu di kaki kiri maka otot pantat akan menyeimbangkan panggul agar badan tidak miring. Mekanisme ini tidak berjalan pada gangguan saraf yang dimaksud.
Cara berjalan seperti gunting atau scissor gait, yakni menyilangkan kaki di setiap langkah bisa dikaitkan dengan multiple schlerosis. Penyebabnya adalah kerusakan saraf di otak dan tulang belakang. Bisa juga karena cedera sumsum tulang belakang akibat kecelakaan.
"Kerusakan pada sumsum tulang belakang bisa memicu perlemahan dan kekakuan otot di kaki. Beberapa kelompok otot menjadi kaku dan lemah. AKibatnya kaki menyilang saat berjalan," kata Prof Masud.
"Meluncur dari satu sisi ke sisi lainnya seperti sedang mabuk bisa menandakan kerusakan cerebellum, yakni bagian otak yang mengontrol koordinasi," kata Prof Masud.
"Bisa mengindikasikan stroke, tumor otak, atau kerusakan akibat penyalahgunaan alkohol," lanjutnya.
Pincang atau cara berjalan yang timpang menyebabkan distribusi berat badan tidak seimbang antara kaki kiri dan kanan. Kondisi ini bisa menandakan radang sendi atau arthritis, baik di pinggul, lutut, jempul maupun tungkai. Cedera pada persendian, seperti terkilir, juga bisa menyebabkan pincang saat berjalan.
Seseorang dengan nyeri sendi kadang harus menghindari beban berlebih pada kaki yang sedang sakit.
"Ini adalah occupational hazzard bagi pekerja yang terus menerus mengalami tekanan di kaki, karena bisa merusak saraf peroneal di samping betis dan di bawah sendi lutut," kata Prof MAsud.
Kondisi tersebut menurut Prof Masud bisa memicu dorsiflexion, yakni ketidakmampuan untuk mengangkat telapak kaki. Akibatnya, saat berjalan telapak kaki harus diseret. Atau, lutut harus dinaikkan tinggi-tinggi agar telapaknya tidak terseret.
"Pasien stroke kadang menyeret kaki pada sisi tertentu karena kerusakan di otak menyebabkan kakinya kaku," tambah Prof Masud.
(up/up)