Hal tersebut dibuktikan oleh para peneliti dari Boston University School of Medicine yang melihat data sekitar 1.100 orang partisipan studi Framingham Heart. Dalam studi tersebut terekam pindaian MRI dan tes kebugaran partisipan sewaktu mereka berusia 40 tahun dan hasil tes yang sama juga 20 tahun kemudian.
Dari sana para peneliti dapat melihat bagaimana perjalanan menyusutnya otak partisipan dibandingkan dengan tingkat kebugarannya. dr Sudha Seshadri selaku peneliti senior yang terlibat mengatakan pada orang-orang yang aktivitas fisiknya rendah terdapat pengurangan massa otak yang lebih besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika tubuh jarang digunakan atau minim aktivitas dapat terjadi yang namanya atrofi atau penyusutan jaringan dan hal ini tampaknya berlaku juga untuk otak. Contoh dari atrofi misalnya ketika seorang binaragawan berhenti melakukan latihan angkat beban, maka otot-ototnya perlahan akan menghilang karena mengalami penyusutan.
"Atrofi berkorelasi dengan lebih sedikitnya sel otak dan juga sedikitnya hubungan antar sinapsis saraf," kata dr Seshadri seperti dikutip dari livescience pada Kamis (11/2/2016).
Dalam laporan yang dipublikasi di jurnal Neurology, peneliti mengatakan kejadian pengurangan massa otak yang terjadi dalam hal ini secara keseluruhan sebetulnya kecil. Namun demikian tetap cukup signifikan meningkatkan risiko seseorang terserang pikun atau gangguan memori.
Baca juga: Studi Ini Sebut Punya Ingatan yang Kuat Justru Memicu Risiko Pikun
(fds/vit)











































