dr Andri, SpKJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan memiliki anggota keluarga, terutama orang tua, yang mengidap gangguan jiwa membuat remaja tak bisa terpenuhi kebutuhan emosionalnya. Akibatnya, depresi pun rentan menyerang.
"Misalnya ibunya mengalami depresi, seharian mengurung diri di kamar atau menangis. Tentunya remaja ini bingung, kenapa kok ibunya seperti itu? Dia juga pasti ingin merasakan perhatian ibu layaknya ibu-ibu teman-temannya yang lain," tutur dr Andri, Jumat (12/2/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah studi dari Prancis menyebut beberapa wanita bisa mengalami depresi parah beberapa bulan pada masa hamil dan setelah melahirkan. Sekitar 3,6 persen wanita dalam studi melaporkan depresi saat hamil dan 4,6 persen merasa depresi saat anak di usia taman kanak-kanak (TK).
Hal ini dikaitkan dengan risiko gangguan perilaku di mana anak bisa menjadi lebih agresif. dr Andri mengatakan pada anak remaja, hal ini memiliki kemungkinan besar akan terjadi.
"Kenapa dia marah-marah, karena tidak bisa menyampaikan maksud perkataan atau menyalurkan emosinya dengan baik. Jadinya agresif, suka memukul dan sensitif," tambahnya lagi.
Jika didiamkan, bukan tak mungkin remaja menjadi pribadi yang kasar. Hal ini bisa berujung pada melakukan tindak kriminal yang tentunya akan disesali oleh kedua belah pihak, baik orang tua maupun si anak.
"Karena itu jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, ayo segera berobat karena pengaruhnya bukan hanya ke pasien, namun juga ke anak dan anggota keluarga lainnya," paparnya.
Baca juga: Tak Hanya Orang Dewasa, Remaja Juga Bisa Mengalami Depresi (mrs/up)











































