Pasien memakai semacam headset untuk memproyeksikan avatarnya di layar komputer. Setelah memakai headset, jika yang bersangkutan bergerak atau menggoyangkan anggota tubuh, maka avatar di layar komputer akan melakukan hal yang sama.
Nah, dalam kegiatan realitas virtual itu, pasien akan bertemu dengan avatar anak yang menangis. Lalu pasien diminta untuk menghibur dan menenangkan anak itu. Pasien akan meminta anak kecil itu mengingat waktu yang membuatnya bahagia, juga memikirkan seseorang yang disayanginya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesi avatar ini berlangsung selama 45 menit. Pasien akan diberi tiga sesi terapi.
Baca juga: Tak Melulu Menyenangkan, Kegiatan di Hari Valentine Bisa Berujung di RS
Terapi baru ini merupakan bagian dari studi berkelanjutan di University College London ICREA-University of Barcelona. Penelitian ini didanai Medical Research Council dan telah dipublikasikan di British Journal of Psychiatry Open. Diharapkan penelitian tersebut bisa menjadi dasar untuk uji klinis skala besar di masa depan.
Dalam penelitian dilibatkan 15 pasien depresi yang dirawat NHS, di mana 10 orang perempuan dan sisanya adalah laki-laki. Setelah mewujudkan diri dalam avatar orang dewasa dan kemudian menjadi avatar anak-anak, para peserta menyebut dirinya menjalani pengalaman yang sangat kuat.
Dari 15 pasien yang berusia 23-61 tahun, sembilan orang tercatat bisa mengurangi tingkat depresi satu bulan setelah terapi uji coba. Sementara itu empat dari sembilan orang dilaporkan merasakan penurunan yang signifikan secara klinis terkait keparahan depresi yang dialami. Sedangkan sisanya dicatat tidak ada perubahan.
Foto: BBC/UCL |
"Orang-orang yang berjuang dengan kecemasan dan depresi dapat mengkritik diri sendiri secara berlebihan bila ada yang salah dalam hidup mereka," kata pemimpin penelitian, Prof Chris Brewin, seperti dikutip dari BBC, Rabu (17/2/2016).
Dengan menghibur orang lain, yang mana dalam terapi virtual ini adalah menghibur sosok anak-anak, kemudian pasien akan mendengar kembali kata-kata mereka sendiri, maka secara tidak langsung pasien memberikan kasih sayang pada dirinya sendiri. "Tujuannya adalah untuk mengajarkan pasien menjadi lebih welas asih terhadap diri mereka sendiri dan mengurangi kritik pada diri sendiri," sambung Prof Brewin.
Baca juga: Perhatikan, Ini Tandanya Remaja Sedang Mengalami Depresi
(vit/vit)












































Foto: BBC/UCL