Simak, Mitos-mitos tentang Tidur Ala Pasangan yang Harus Dikaji Ulang

Simak, Mitos-mitos tentang Tidur Ala Pasangan yang Harus Dikaji Ulang

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 24 Feb 2016 20:05 WIB
Simak, Mitos-mitos tentang Tidur Ala Pasangan yang Harus Dikaji Ulang
Foto: Thinkstock
Jakarta - Siapa bilang wanita tidak mendengkur saat tidur? Lalu haruskah pasangan bercinta dulu sebelum tidur agar bisa terlelap?
 
Konon wanita lebih suka berpelukan saat tidur atau pria lebih banyak mendengkur. Namun faktanya ini hanyalah mitos tidur ala pasangan yang banyak dipercaya orang.
 
Untuk lebih jelasnya, simak tujuh mitos tidur yang umumnya ditemukan pada pasangan dan fakta yang sebenarnya, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (24/2/2016)

Mitos 1: Pria lebih banyak mendengkur

Foto: Thinkstock
Psikolog Michael Breus, PhD, dari American Board of Sleep Medicine mengatakan, pria memang punya tendensi lebih besar untuk mendengkur. Tetapi saat wanita sudah memasuki masa menopause, kebiasaan mendengkur mereka bisa saja lebih buruk dari suaminya.

Mitos 2: Tidur hanya bisa lelap setelah bercinta

Foto: thinkstock
Dalam bukunya, Two in a Bed: The Social System of Couple Bed Sharing, Paul Rosenblatt mengatakan, pasangan dengan kehidupan seksual yang baik biasanya juga memiliki tidur yang berkualitas. Tetapi sebenarnya nyenyak tidaknya tidur ini juga ditentukan oleh kualitas seks itu sendiri.

"Sebaliknya, bila kegiatan seks yang dilakukan justru megecewakan salah satu pihak atau memunculkan isu-isu yang tidak menyenangkan, pasangan justru jadi merasa cemas dan susah tidur," katanya.

Mitos 3: Wanita butuh dipeluk saat tidur

Foto: thinkstock
Siapa bilang hanya wanita yang butuh dipeluk saat tidur? Psikolog yang juga ahli perilaku tidur, Wendy Troxel, PhD mengungkap, baik pria maupun wanita sama-sama diuntungkan dan membutuhkan aktivitas berpelukan ini.

Namun bukan berarti pasangan yang bahagia adalah pasangan yang selalu berpelukan saat tidur. "Tidur di sisi yang terpisah atau bahkan berbeda tempat tidur bukanlah indikator konflik dalam hubungan," kata Breus.

Biasanya mereka punya alasan tersendiri untuk memilih tidak satu kasur dengan pasangannya, seperti suhu tubuh yang berbeda atau gangguan tidur yang dimiliki salah satunya.

Mitos 4: Jangan tidur dalam keadaan marah

Foto: thinkstock
Sebuah studi di tahun 2011 mengungkap, marah kepada pasangan tidak akan mengganggu performa tidur seseorang. Akan tetapi bila keduanya berkonflik, ini baru berpengaruh. "Waktu yang dihabiskan untuk membicarakannya dan mencarikan solusi atas persoalan itu jelas akan memakan jam tidur Anda," ungkap psikolog Janet Kennedy.

Lagipula ketika persoalan tidak terselesaikan dan menjadi beban pikiran, hal ini akan membuat seseorang terjaga semalaman, sebab hormon adrenalinnya meningkat tajam saat itu.
 
Mitos 5: Si tukang begadang dan si tukang bangun pagi tidak akan bahagia
Pasangan sekalipun terkadang memiliki jam tidur yang berbeda-beda. Menurut Kennedy, biasanya ini disebabkan oleh pekerjaan. Kalaupun dipaksakan tidur di jam yang sama, orang yang bersangkutan justru akan merasa frustrasi.

"Pasangan tidak harus tidur di jam yang sama agar bisa bahagia. Terima saja jadwal tidur masing-masing atau lakukan rutinitas menjelang tidur bersama saja cukup," sarannya.

Mitos 5: Si tukang begadang dan si tukang bangun pagi tidak akan bahagia

Foto: Thinkstock
Pasangan sekalipun terkadang memiliki jam tidur yang berbeda-beda. Menurut Kennedy, biasanya ini disebabkan oleh pekerjaan. Kalaupun dipaksakan tidur di jam yang sama, orang yang bersangkutan justru akan merasa frustrasi.

"Pasangan tidak harus tidur di jam yang sama agar bisa bahagia. Terima saja jadwal tidur masing-masing atau lakukan rutinitas menjelang tidur bersama saja cukup," sarannya.

Mitos 6: Sering begadang biasanya kerap bermasalah dalam hubungan
Troxel menyadari banyak studi yang mengungkap wanita yang tak bahagia dalam pernikahan biasanya mudah insomnia, begitu juga dengan mereka yang mengalami masalah dalam pernikahannya.

Akan tetapi ia mengingatkan, ini bukan berarti keduanya memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung. "Insomnia itu lebih dipicu oleh gangguan kesehatan atau persoalan antarpersonal yang lebih besar," jelasnya.
Halaman 2 dari 6
Psikolog Michael Breus, PhD, dari American Board of Sleep Medicine mengatakan, pria memang punya tendensi lebih besar untuk mendengkur. Tetapi saat wanita sudah memasuki masa menopause, kebiasaan mendengkur mereka bisa saja lebih buruk dari suaminya.

Dalam bukunya, Two in a Bed: The Social System of Couple Bed Sharing, Paul Rosenblatt mengatakan, pasangan dengan kehidupan seksual yang baik biasanya juga memiliki tidur yang berkualitas. Tetapi sebenarnya nyenyak tidaknya tidur ini juga ditentukan oleh kualitas seks itu sendiri.

"Sebaliknya, bila kegiatan seks yang dilakukan justru megecewakan salah satu pihak atau memunculkan isu-isu yang tidak menyenangkan, pasangan justru jadi merasa cemas dan susah tidur," katanya.

Siapa bilang hanya wanita yang butuh dipeluk saat tidur? Psikolog yang juga ahli perilaku tidur, Wendy Troxel, PhD mengungkap, baik pria maupun wanita sama-sama diuntungkan dan membutuhkan aktivitas berpelukan ini.

Namun bukan berarti pasangan yang bahagia adalah pasangan yang selalu berpelukan saat tidur. "Tidur di sisi yang terpisah atau bahkan berbeda tempat tidur bukanlah indikator konflik dalam hubungan," kata Breus.

Biasanya mereka punya alasan tersendiri untuk memilih tidak satu kasur dengan pasangannya, seperti suhu tubuh yang berbeda atau gangguan tidur yang dimiliki salah satunya.

Sebuah studi di tahun 2011 mengungkap, marah kepada pasangan tidak akan mengganggu performa tidur seseorang. Akan tetapi bila keduanya berkonflik, ini baru berpengaruh. "Waktu yang dihabiskan untuk membicarakannya dan mencarikan solusi atas persoalan itu jelas akan memakan jam tidur Anda," ungkap psikolog Janet Kennedy.

Lagipula ketika persoalan tidak terselesaikan dan menjadi beban pikiran, hal ini akan membuat seseorang terjaga semalaman, sebab hormon adrenalinnya meningkat tajam saat itu.
 
Mitos 5: Si tukang begadang dan si tukang bangun pagi tidak akan bahagia
Pasangan sekalipun terkadang memiliki jam tidur yang berbeda-beda. Menurut Kennedy, biasanya ini disebabkan oleh pekerjaan. Kalaupun dipaksakan tidur di jam yang sama, orang yang bersangkutan justru akan merasa frustrasi.

"Pasangan tidak harus tidur di jam yang sama agar bisa bahagia. Terima saja jadwal tidur masing-masing atau lakukan rutinitas menjelang tidur bersama saja cukup," sarannya.

Pasangan sekalipun terkadang memiliki jam tidur yang berbeda-beda. Menurut Kennedy, biasanya ini disebabkan oleh pekerjaan. Kalaupun dipaksakan tidur di jam yang sama, orang yang bersangkutan justru akan merasa frustrasi.

"Pasangan tidak harus tidur di jam yang sama agar bisa bahagia. Terima saja jadwal tidur masing-masing atau lakukan rutinitas menjelang tidur bersama saja cukup," sarannya.

Mitos 6: Sering begadang biasanya kerap bermasalah dalam hubungan
Troxel menyadari banyak studi yang mengungkap wanita yang tak bahagia dalam pernikahan biasanya mudah insomnia, begitu juga dengan mereka yang mengalami masalah dalam pernikahannya.

Akan tetapi ia mengingatkan, ini bukan berarti keduanya memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung. "Insomnia itu lebih dipicu oleh gangguan kesehatan atau persoalan antarpersonal yang lebih besar," jelasnya.

(lll/up)

Berita Terkait