Vaksin ini diciptakan oleh peneliti dari The Scripps Institute, California untuk membantu menghilangkan kebiasaan merokok, dengan cara menurunkan efek nikotin pada otak.
Jadi, setelah disuntikkan, vaksin ini akan meningkatkan jumlah antibodi yang dapat menempel pada molekul-molekul nikotin, untuk kemudian memperlambat atau menunda keluarnya efek nikotin pada tubuh si perokok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara ini, percobaan baru dilakukan pada tikus, namun hasilnya sudah sesuai harapan. Tikus yang disuntik dengan vaksin ini mengalami penundaan efek nikotin 10 menit setelah suntikan diberikan.
Peneliti juga memastikan konsentrasi nikotin dalam otak mereka juga lebih rendah ketimbang tikus yang tidak divaksin. Kini peneliti tengah berupaya memperbaiki formulasi vaksin mereka agar dapat dilakukan ujicoba klinis secepatnya.
Baca juga: Mau Pangkas Risiko Kanker? Yuk Rutin Medical Check Up dan Setop Merokok
Sementara itu, studi lain mengungkap mengomel atau menggerutu di dekat perokok tidak akan membantu atau mendorong mereka untuk berhenti dari kebiasaannya itu.
"Kami menemukan bahwa dukungan memberikan manfaat paling besar dalam membantu menghentikan ini," simpul Dr Gertraud Stadler dari University of Aberdeen seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (14/3/2016).
Alih-alih mengeluh atau menyuruh-nyuruh pasangan yang merokok, Stadler mengatakan pasangan bisa memberikan dukungan sekaligus mencoba mengalihkan perhatian si perokok pada hal lain, seperti mengajak mereka berbelanja atau mengurus anak.
Baca juga: Presiden Obama Lepas dari Kecanduan Merokok dengan Permen Karet Nikotin (lll/vit)











































