Menurut Dr Sherry Ross dari Providence Saint John's Health Center di Santa Monica, normalnya menstruasi terjadi setiap 28 hari sekali. Bisa kurang ataupun lebih, bergantung pada kondisi fisik dan mental masing-masing wanita. Namun ada beberapa hal selain kehamilan yang dapat memengaruhi siklus tersebut. Demikian dikutip dari Medical Daily.
Seperti dirangkum detikHealth, berikut 5 hal yang dapat membuat menstruasi menjadi terlambat:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Polycystic ovary syndrome (PCOS)
|
Foto: thinkstock
|
Akibatnya, siklus menstruasi pun menjadi tak teratur dan menyulitkan wanita untuk mendapatkan keturunan. "Wanita dengan kondisi PCOS bisa menstruasi setiap dua minggu, setiap 3 sampai 6 bulan, atau mungkin setahun sekali," tutur Ross.
Selain periode menstruasi yang tidak teratur atau berkepanjangan, gejala umum lain wanita dengan PCOS di antaranya pertumbuhan rambut berlebih, jerawat, dan kelebihan berat badan.
2. Konsumsi obat
|
Foto: thinkstock
|
3. Kegemukan
|
Foto: Thinkstock
|
"Kegemukan dapat menjadi datang bulan yang tidak teratur. Sel telur yang kecil-kecil yang mengakibtkan ketidak seimbangan hormon yang menyebabkan datang bulan yang tidak teratur. Kondisi ini disebut polycystic ovary syndrome (PCOS)," tutur dr Nurhadi dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu lalu.
Pria yang akrab disapa dr Adi ini mengatakan kondisi tersebut tidak membutuhkan pengobatan namun tetap harus diperhatikan. Menurunkan berat badan harus menjadi prioritas utama. Caranya tentu saja dengan melakukan perubahan gaya hidup untuk mengurangi berat badan.
"Bagi wanita gemuk, mau nggak mau harus menurutkan berat badan. Minimal satu bulan turun 1-2 kg-lah, tetapi diimbangi dengan olahraga. Pokoknya mengubah gaya hidup. Tetapi apabila sudah mengubah gaya hidup dan masih saja mengalami datang bulan tidak teratur disarankan untuk berobat ke dokter," ungkapnya.
4. Olahraga berlebihan
|
Foto: thinkstock
|
Selain melatih fisik, biasanya hal ini juga dilakukan untuk menurunkan berat badan atlet. Nah, penurunan berat badan yang drastis dapat memengaruhi produksi hormon leptin. Menurut Ross, perubahan tersebut turut berkontribusi membuat siklus menstruasi menjadi tak teratur.
5. Stres
|
Foto: thinkstock
|
Halaman 2 dari 6











































