Belum Tentu Hamil, Haid Juga Bisa Datang Terlambat karena 5 Hal Ini

Belum Tentu Hamil, Haid Juga Bisa Datang Terlambat karena 5 Hal Ini

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Jumat, 18 Mar 2016 10:35 WIB
Belum Tentu Hamil, Haid Juga Bisa Datang Terlambat karena 5 Hal Ini
Foto: Thinkstock
Jakarta - Saat seorang wanita mengalami keterlambatan menstruasi, hal pertama yang langsung terlintas adalah karena hamil. Padahal faktanya, hal ini juga bisa terjadi akibat faktor-faktor lainnya.

Menurut Dr Sherry Ross dari Providence Saint John's Health Center di Santa Monica, normalnya menstruasi terjadi setiap 28 hari sekali. Bisa kurang ataupun lebih, bergantung pada kondisi fisik dan mental masing-masing wanita. Namun ada beberapa hal selain kehamilan yang dapat memengaruhi siklus tersebut. Demikian dikutip dari Medical Daily.

Seperti dirangkum detikHealth, berikut 5 hal yang dapat membuat menstruasi menjadi terlambat:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Tak Kunjung Hamil karena PCOS, Emma Perlakukan Boneka Seperti Anaknya


1. Polycystic ovary syndrome (PCOS)

Foto: thinkstock
Polycystic ovary syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik merupakan gangguan hormonal yang umum di kalangan wanita usia reproduksi. Wanita dengan PCOS memiliki banyak kista kecil yang terletak di sepanjang tepi luar dari masing-masing ovarium (indung telur). Hal ini menyebabkan tidak adanya ovulasi dan hormon menjadi tidak seimbang di dalam tubuh.

Akibatnya, siklus menstruasi pun menjadi tak teratur dan menyulitkan wanita untuk mendapatkan keturunan. "Wanita dengan kondisi PCOS bisa menstruasi setiap dua minggu, setiap 3 sampai 6 bulan, atau mungkin setahun sekali," tutur Ross.

Selain periode menstruasi yang tidak teratur atau berkepanjangan, gejala umum lain wanita dengan PCOS di antaranya pertumbuhan rambut berlebih, jerawat, dan kelebihan berat badan.

2. Konsumsi obat

Foto: thinkstock
Menurut Ross, dalam beberapa kasus, konsumsi obat-obatan tertentu seperti pil KB, aspirin, dan ibuprofen dapat mengubah hormon dalam tubuh wanita yang mengatur siklus menstruasi. Efeknya menstruasi pun bisa saja datang terlambat ketika Anda mengonsumsi obat-obatan tersebut.

3. Kegemukan

Foto: Thinkstock
dr M Nurhadi Rahman, SpOG dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta mengatakan berat badan memang berhubungan dengan siklus haid atau menstruasi. Jika berat badan berlebih, ada kemungkinan siklus haid menjadi tidak teratur, kadang datang tiap bulan, kadang tidak untuk beberapa bulan.

"Kegemukan dapat menjadi datang bulan yang tidak teratur. Sel telur yang kecil-kecil yang mengakibtkan ketidak seimbangan hormon yang menyebabkan datang bulan yang tidak teratur. Kondisi ini disebut polycystic ovary syndrome (PCOS)," tutur dr Nurhadi dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa dr Adi ini mengatakan kondisi tersebut tidak membutuhkan pengobatan namun tetap harus diperhatikan. Menurunkan berat badan harus menjadi prioritas utama. Caranya tentu saja dengan melakukan perubahan gaya hidup untuk mengurangi berat badan.

"Bagi wanita gemuk, mau nggak mau harus menurutkan berat badan. Minimal satu bulan turun 1-2 kg-lah, tetapi diimbangi dengan olahraga. Pokoknya mengubah gaya hidup. Tetapi apabila sudah mengubah gaya hidup dan masih saja mengalami datang bulan tidak teratur disarankan untuk berobat ke dokter," ungkapnya.

4. Olahraga berlebihan

Foto: thinkstock
Menurut Summit Medical Group, latihan fisik yang terlalu berlebihan dan dipaksakan dapat menimbulkan athletic amenorrhea. Umumnya kondisi ini banyak terjadi pada atlet, di mana mereka biasa ditempatkan pada tekanan tinggi untuk terus latihan fisik.

Selain melatih fisik, biasanya hal ini juga dilakukan untuk menurunkan berat badan atlet. Nah, penurunan berat badan yang drastis dapat memengaruhi produksi hormon leptin. Menurut Ross, perubahan tersebut turut berkontribusi membuat siklus menstruasi menjadi tak teratur.

5. Stres

Foto: thinkstock
Selain merusak daya tahan tubuh, stres berlebihan juga bisa membuat menstruasi datang terlambat. "Itu karena ketika seseorang stres, tubuh mengirim sinyal ke otak untuk berhenti melepaskan estrogen dan progesteron. Padahal kedua hormon ini diperlukan dalam proses menstruasi," ujar pakar kesehatan Angela Grassi.

Halaman 2 dari 6
Polycystic ovary syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik merupakan gangguan hormonal yang umum di kalangan wanita usia reproduksi. Wanita dengan PCOS memiliki banyak kista kecil yang terletak di sepanjang tepi luar dari masing-masing ovarium (indung telur). Hal ini menyebabkan tidak adanya ovulasi dan hormon menjadi tidak seimbang di dalam tubuh.

Akibatnya, siklus menstruasi pun menjadi tak teratur dan menyulitkan wanita untuk mendapatkan keturunan. "Wanita dengan kondisi PCOS bisa menstruasi setiap dua minggu, setiap 3 sampai 6 bulan, atau mungkin setahun sekali," tutur Ross.

Selain periode menstruasi yang tidak teratur atau berkepanjangan, gejala umum lain wanita dengan PCOS di antaranya pertumbuhan rambut berlebih, jerawat, dan kelebihan berat badan.

Menurut Ross, dalam beberapa kasus, konsumsi obat-obatan tertentu seperti pil KB, aspirin, dan ibuprofen dapat mengubah hormon dalam tubuh wanita yang mengatur siklus menstruasi. Efeknya menstruasi pun bisa saja datang terlambat ketika Anda mengonsumsi obat-obatan tersebut.

dr M Nurhadi Rahman, SpOG dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta mengatakan berat badan memang berhubungan dengan siklus haid atau menstruasi. Jika berat badan berlebih, ada kemungkinan siklus haid menjadi tidak teratur, kadang datang tiap bulan, kadang tidak untuk beberapa bulan.

"Kegemukan dapat menjadi datang bulan yang tidak teratur. Sel telur yang kecil-kecil yang mengakibtkan ketidak seimbangan hormon yang menyebabkan datang bulan yang tidak teratur. Kondisi ini disebut polycystic ovary syndrome (PCOS)," tutur dr Nurhadi dalam perbincangan dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa dr Adi ini mengatakan kondisi tersebut tidak membutuhkan pengobatan namun tetap harus diperhatikan. Menurunkan berat badan harus menjadi prioritas utama. Caranya tentu saja dengan melakukan perubahan gaya hidup untuk mengurangi berat badan.

"Bagi wanita gemuk, mau nggak mau harus menurutkan berat badan. Minimal satu bulan turun 1-2 kg-lah, tetapi diimbangi dengan olahraga. Pokoknya mengubah gaya hidup. Tetapi apabila sudah mengubah gaya hidup dan masih saja mengalami datang bulan tidak teratur disarankan untuk berobat ke dokter," ungkapnya.

Menurut Summit Medical Group, latihan fisik yang terlalu berlebihan dan dipaksakan dapat menimbulkan athletic amenorrhea. Umumnya kondisi ini banyak terjadi pada atlet, di mana mereka biasa ditempatkan pada tekanan tinggi untuk terus latihan fisik.

Selain melatih fisik, biasanya hal ini juga dilakukan untuk menurunkan berat badan atlet. Nah, penurunan berat badan yang drastis dapat memengaruhi produksi hormon leptin. Menurut Ross, perubahan tersebut turut berkontribusi membuat siklus menstruasi menjadi tak teratur.

Selain merusak daya tahan tubuh, stres berlebihan juga bisa membuat menstruasi datang terlambat. "Itu karena ketika seseorang stres, tubuh mengirim sinyal ke otak untuk berhenti melepaskan estrogen dan progesteron. Padahal kedua hormon ini diperlukan dalam proses menstruasi," ujar pakar kesehatan Angela Grassi.

(ajg/vit)

Berita Terkait