Naik Motor Malam Hari dan Berciuman Bisa Tertular TB?

Naik Motor Malam Hari dan Berciuman Bisa Tertular TB?

Firdaus Anwar - detikHealth
Kamis, 24 Mar 2016 14:00 WIB
Naik Motor Malam Hari dan Berciuman Bisa Tertular TB?
Foto: thinkstock
Jakarta - Kasus tuberkulosis (TB) di Indonesia saat ini menurut World Health Organization (WHO) ada sekitar 6.600 per tahun. Hal ini membuat Indonesia menempati posisi ke dua negara dengan TB terbanyak setelah India.

TB, seperti penyakit lainnya dengan momok menakutkan memiliki mitos-mitosnya sendiri. Pada peringatan hari TB sedunia 24 Maret, mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Profesor Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), mencoba meluruskannya.

Menurut Prof Tjandra pada dasarnya bakteri mycobacterium tuberculosis yang menjadi sumber penyakit TB berada pada paru bagian bawah. Ini artinya bakteri hanya ada pada bagian tertentu saja yaitu lendir paru sedangkan air liur sendiri bisa bebas bakteri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maka dari itu anggapan kalau makan pakai sendok garpu sama piring pengidap TB nanti bisa tertular itu salah. Bakterinya itu enggak ada di air liur dia adanya di sputum yang pas batuk-batuk itu," kata Prof Tjandra ketika ditemui di RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (24/3/2016).

Baca juga: Kena TB Sejak Usia 10 Tahun, Begini Upaya Ully Hingga Sembuh Total

Lebih lanjut ahli paru yang kini aktif sebagai anggota World Health Organization (WHO) ini menjelaskan bahkan pada kontak yang sangat dekat sekali pun seperti berciuman TB tak semudah itu menular. Bersin dan batuk adalah dua hal yang umumnya bisa membawa lendir dalam paru keluar sehingga bakteri bisa menyebar di udara.

"Mitos lainnya lagi ada orang dibilang kalau keluar malam naik motor nanti bakal kena TB. Sebenarnya naik motor atau keluar malam itu tidak membuat tertular TB, tapi memang membuat daya tahan tubuh turun," kata Prof Tjandra.

Bila berbicara daya tahan tubuh yang turun, memang kemungkinan seseorang untuk terkena TB akan menjadi lebih besar. Alasannya menurut Prof Tjandra karena diperkirakan satu per tiga penduduk dunia memang sebetulnya sudah terinfeksi terhadap namun bisa tidak sakit karena daya tahan tubuhnya bagus, bakteri bersifat dorman atau tak aktif sampai ada kesempatan.

Baca juga: Asal Patuh Minum Obat, Tuberkulosis Pasti Bisa Disembuhkan! (fds/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads