Jakarta -
Seorang ayah akan lebih bermain 'kasar' dengan anak, mencari rantai kekuasaan, dan tergantung usia ia bisa jadi cenderung ingin berkompetisi atau bekerja sama. Semua hal itu berkaitan dengan apa yang terjadi pada otaknya.
Beberapa studi telah banyak meneliti otak pria dan perbedaannya dengan wanita. Dikutip dari Live Science pada Senin (28/3/2016), berikut adalah fakta-fakta menarik terkait otak pria:
1. Teritorial
Foto: thinkstock
|
Ahli saraf Louann Brizendine dari Amerika Serikat mengatakan otak pria membuatnya cenderung bersifat teritorial. Artinya pria bisa lebih posesif terhadap pasangan atau sesuatu yang dianggap 'miliknya'.
"Bagian dari tugas pejantan, bicara secara evolusi, adalah mempertahankan area kekuasaannya," kata Brizendine. Menurutnya untuk manusia hal ini masih perlu diteliti lagi, tapi bila melihat mamalia lainnya bagian otak yang bertanggung jawab terhadap reaksi 'daerah kekuasaan' memang lebih besar di pejantan daripada betina.
Wanita juga memiliki bagian ini sehingga ada juga wanita posesif, namun menurut Brizendine pria lebih mungkin berubah kasar ketika ada sesuatu mengancam pasangan atau kekuasaannya.
2. Dirancang mata keranjang
Foto: thinkstock
|
Meski hormon testosterone seringnya dikaitkan dengan sifat agresif, ia juga berperan dalam dorongan gairah atau libido. Terkait hal ini, ahli psikologi sosial Pranjal Mehta dari Columbia University mengatakan pria dalam tubuhnya memiliki hormon testosterone 6 kali lebih banyak daripada wanita.
Mehta dan rekan dalam studinya menemukan hormon testosterone yang tinggi dapat mengganggu bagian pengendali hasrat pada otak. Akibatnya hal ini mungkin menjelaskan mengapa seorang pria 'secara otomatis' senang melirik wanita yang berada dalam jarak pandangnya.
3. Fokus solusi
Foto: thinkstock
|
Banyak studi mengatakan bahwa dibandingkan pria, otak wanita membuatnya lebih mudah untuk berempati. Hal ini menurut Brizendine tak seluruhnya benar, pria bisa juga berempati dan sistem otaknya merespon ketika dihadapkan pada stres masalah.
Hanya saja yang berbeda adalah pada pria ketika dihadapkan pada stres masalah bagian otak lainnya yang bertanggung jawab untuk mencari solusi cepat aktif.
"Bagian otak ini seperti melakukan pencarian Google ke seluruh bagian otak untuk mencari solusi," kata Brizendine. Akhirnya pria jadi terlihat cenderung lebih memikirkan bagaimana solusinya daripada menunjukkan solidaritas perasaannya.
4. Rentan kesepian
Foto: Getty Images
|
Rasa kesepian dapat membebani mental dan menganggu kesehatan fisik serta otak semua orang. Tapi bagi pria tua, kesepian bisa jadi lebih mengancam seperti dikatakan oleh Brizendine.
Hal ini terjadi karena dibandingkan wanita, pria cenderung lebih jarang meminta bantuan menjangkau orang-orang sekitarnya. Akibatnya semakin memperparah rasa kesepian dan stresnya membebani sirkuit otak.
Hidup bersama seorang wanita mungkin dapat mengatasi masalah ini. Studi telah menunjukkan pria yang terlibat dalam hubungan yang stabil bisa lebih sehat, panjang umur, dan punya tingkat hormon yang mengindikasikan pengurangan rasa cemas.
5. Lebih emosional
Foto: thinkstock
|
Meski wanita yang biasanya dianggap lebih emosional, pada nyatanya peneliti menemukan anak laki-laki bisa lebih reaktif secara emosional dan ekspresif dibandingkan anak perempuan.
Ketika dewasa pria juga sebetulnya memiliki reaksi emosi yang lebih besar dibandingkan wanita tapi hanya bila mereka tak menyadarinya seperti dilaporkan oleh studi di Scandinavian Journal of Psychology tahun 2008. Ketika emosi disadari, pria dewasa akan mengadopsi muka datar.
Ahli saraf Louann Brizendine dari Amerika Serikat mengatakan otak pria membuatnya cenderung bersifat teritorial. Artinya pria bisa lebih posesif terhadap pasangan atau sesuatu yang dianggap 'miliknya'.
"Bagian dari tugas pejantan, bicara secara evolusi, adalah mempertahankan area kekuasaannya," kata Brizendine. Menurutnya untuk manusia hal ini masih perlu diteliti lagi, tapi bila melihat mamalia lainnya bagian otak yang bertanggung jawab terhadap reaksi 'daerah kekuasaan' memang lebih besar di pejantan daripada betina.
Wanita juga memiliki bagian ini sehingga ada juga wanita posesif, namun menurut Brizendine pria lebih mungkin berubah kasar ketika ada sesuatu mengancam pasangan atau kekuasaannya.
Meski hormon testosterone seringnya dikaitkan dengan sifat agresif, ia juga berperan dalam dorongan gairah atau libido. Terkait hal ini, ahli psikologi sosial Pranjal Mehta dari Columbia University mengatakan pria dalam tubuhnya memiliki hormon testosterone 6 kali lebih banyak daripada wanita.
Mehta dan rekan dalam studinya menemukan hormon testosterone yang tinggi dapat mengganggu bagian pengendali hasrat pada otak. Akibatnya hal ini mungkin menjelaskan mengapa seorang pria 'secara otomatis' senang melirik wanita yang berada dalam jarak pandangnya.
Banyak studi mengatakan bahwa dibandingkan pria, otak wanita membuatnya lebih mudah untuk berempati. Hal ini menurut Brizendine tak seluruhnya benar, pria bisa juga berempati dan sistem otaknya merespon ketika dihadapkan pada stres masalah.
Hanya saja yang berbeda adalah pada pria ketika dihadapkan pada stres masalah bagian otak lainnya yang bertanggung jawab untuk mencari solusi cepat aktif.
"Bagian otak ini seperti melakukan pencarian Google ke seluruh bagian otak untuk mencari solusi," kata Brizendine. Akhirnya pria jadi terlihat cenderung lebih memikirkan bagaimana solusinya daripada menunjukkan solidaritas perasaannya.
Rasa kesepian dapat membebani mental dan menganggu kesehatan fisik serta otak semua orang. Tapi bagi pria tua, kesepian bisa jadi lebih mengancam seperti dikatakan oleh Brizendine.
Hal ini terjadi karena dibandingkan wanita, pria cenderung lebih jarang meminta bantuan menjangkau orang-orang sekitarnya. Akibatnya semakin memperparah rasa kesepian dan stresnya membebani sirkuit otak.
Hidup bersama seorang wanita mungkin dapat mengatasi masalah ini. Studi telah menunjukkan pria yang terlibat dalam hubungan yang stabil bisa lebih sehat, panjang umur, dan punya tingkat hormon yang mengindikasikan pengurangan rasa cemas.
Meski wanita yang biasanya dianggap lebih emosional, pada nyatanya peneliti menemukan anak laki-laki bisa lebih reaktif secara emosional dan ekspresif dibandingkan anak perempuan.
Ketika dewasa pria juga sebetulnya memiliki reaksi emosi yang lebih besar dibandingkan wanita tapi hanya bila mereka tak menyadarinya seperti dilaporkan oleh studi di Scandinavian Journal of Psychology tahun 2008. Ketika emosi disadari, pria dewasa akan mengadopsi muka datar.
(fds/up)