Jalani Operasi Pengecilan Payudara, Adakah Risikonya?

Jalani Operasi Pengecilan Payudara, Adakah Risikonya?

Nurvita Indarini - detikHealth
Rabu, 30 Mar 2016 14:39 WIB
Jalani Operasi Pengecilan Payudara, Adakah Risikonya?
Foto: thinkstock
Jakarta - Operasi pengecilan payudara jadi pilihan bagi mereka yang berpayudara terlalu besar. Nah, setiap tindakan medis pasti ada risikonya. Lalu apa saja risiko prosedur pengecilan payudara ini?

"Risiko beragam, dari infeksi, berkurangnya kemampuan menyusui sampai dengan kerusakan nipple-areola complex (puting)," jelas dr Beta Subakti Nata'atmaja SpBP-RE(K) dari RS Onkologi Surabaya dalam perbincangan dengan detikHealth.

dr Beta menuturkan nipple areola complex (NAC) necrosis merupakan komplikasi langsung pasca operasi, yakni rusaknya struktur puting karena gangguan perdarahan. Prosedur breast reduction memanipulasi struktur payudara dengan memotong, membuang jaringan dan menata ulang jaringan payudara. Nah, risiko NAC terganggu perdarahannya muncul akibat proses ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"NAC reconstruction sudah dapat dilakukan, biasanya pada rekonstruksi payudara pasca operasi kanker payudara," lanjutnya.

Menurut dr Beta, risiko terjadinya parut luka selalu ada. Akan tetapi apakah kemudian bekasnya menjadi jelek seperti keloid, itu tergantung masing-masing individu.

Baca jugaKisah Mick-Sophie, Payudara 'Disetrika' Saat Remaja Agar Aman dari Perkosaan

"Keloid atau parut luka dipengaruhi oleh genetik, warna kulit, lokasi luka di tubuh dan proses penyembuhan lukanya sendiri. Studi menunjukkan warna kulit gelap semakin meningkatkan kemungkinan gangguan parut luka," papar dr Beta.

Selain itu, merokok juga akan menyebabkan luka menjadi sulit sembuh, bahkan sebagian kulit yang dioperasi bisa nekrosis atau mengalami kerusakan. "Sudah banyak studi dan contoh kasus untuk akibat rokok pada operasi," imbuhnya.

Untuk parut luka yang normal, umumnya akan pudar dan menjadi halus dalam kurun waktu satu tahun.

Terkait praktik setrika payudara yang masih dilakukan beberapa orang di negara lain untuk menekan pertumbuhan payudara, dikatakan dr Beta, prosedur semacam itu tidak manusiawi dan tidak ilmiah. Meskipun tujuan prosedur untuk pencegahan pemerkosaan, namun dr Beta menilai tidak efektif.

"Hal ini bisa dianalogikan dengan merusak mobil kita untuk mencegah supaya tidak dicuri orang saat diparkir. Efektif atau tidaknya saya tidak punya pengetahuan dan pengalaman, tapi mendengarnya saja sudah sedih. Ini risikonya pasti banyak, baik secara fisik dan psikis terhadap wanitanya," tuturnya.

Baca jugaOperasi Pengecilan Payudara pada Pria, Apakah Berbeda dengan Wanita? (vit/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads