Menanggapi hal ini, dr Em Yunir, SpPD-KEMD dari Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-RS Cipto Mangunkusumo angkat bicara. Anjuran-anjuran semacam itu, menurutnya tidak terbukti secara medis.
Bagi dr Yunir, jika memang tujuan LBA ini hanya mau cek darah maka tidak ada masalah. Yang mengkhawatirkan, orang-orang non tenaga medis tersebut 'membaca' hasil cek darah tersebut layaknya dokter dan memberikan saran-saran tak berlatar belakang ilmiah pada masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sama seperti dukun ya? Seperti tebak-tebakan saja. Kan mereka bukan tenaga kesehatan. Kok bisa-bisanya menginterpretasikan hasil cek darah, lalu memberikan anjuran seperti itu. Mereka kan bukan expert-nya," pungkas dr Yunir kepada detikHealth, Jumat (1/4/2016).
Anjuran mandi pandan wangi yang 'diresepkan' petugas (Foto: Budi/pembaca) |
Baca juga: Saran Dokter Agar Tak Terkecoh Layanan Cek Darah Keliling
Ia melanjutkan, sah-sah saja jika masyarakat mau melakukan cek darah semacam itu, yang terpenting adalah hasil pemeriksaannya tetap harus diinterpretasikan oleh dokter. Sebab mendiagnosis penyakit tak sekadar melihat angka hasil cek darah, tapi juga melihat kondisi fisik pasien secara keseluruhan.
"Diagnosis itu bukan sekadar angka, tapi juga melihat riwayat kesehatan pasien. Kalau sekadar baca berdasarkan angka, kan bisa saja mungkin alatnya lagi ngaco. Angka-angka seperti itu bukan patokan utama diagnosis, itu makanya tetap harus dokter yang baca kalau mau hasilnya efektif," tutur dr Yunir.
Anjuran untuk mandi air pandan wangi diterima oleh Budi, seorang warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Baru-baru ini, rumahnya didatangi 2 petugas yang menawarkan tes darah LBA dengan biaya Rp 50.000 tiap pasien. Budi was-was karena kedua petugas ini bukan tenaga kesehatan.
Baca juga: Banyak Tawaran Cek Darah ke Rumah-rumah, Kemenkes Sarankan Hati-hati
(ajg/up)












































Anjuran mandi pandan wangi yang 'diresepkan' petugas (Foto: Budi/pembaca)